Suhu Lautan Jadi Akselerator Perubahan Iklim

Gas rumah kaca yang dihasilkan manusia telah memicu peningkatan suhu rata-rata bumi sekitar satu derajat Celcius sejak abad ke-19. Permukaan laut menghangat sekitar 0,8 derajat Celcius. Semakin hangat samudra, semakin sedikit energi dan CO2 yang dapat diserap dan disimpan oleh air dari atmosfer. Konsekuensinya bisa sangat menghancurkan. Jika laut terus menghangat, itu akan memiliki dampak besar pada sistem iklim, mulai dari suhu ekstrem, badai, kekeringan, hingga banjir dan musim hujan yang panjang. Hembusan angin kencang di atas kontinen yang sedang panas dan kering seperti Australia bisa meningkatkan risiko kebakaran hutan secara drastis. Bahkan di daerah yang dulunya beriklim sedang dan dingin risiko kebakaran hutan juga meningkat. Suhu Lautan Jadi Akselerator Perubahan Iklim

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam Chinese Journal Advances in Atmospheric Sciences, ditemukan bahwa suhu laut pada tahun 2019 menjadi yang terpanas dalam sejarah. Laporan yang menyertakan bukti lebih lanjut tentang pemanasan global itu juga menyebut pemanasan suhu laut berlangsung lebih cepat. Penelitian itu menggambarkan pengaruh manusia terhadap pemanasan suhu laut dan menunjukkan bahwa kenaikan permukaan laut, pengasaman air laut dan cuaca ekstrem bisa menjadi lebih buruk bila lautan terus menyerap panas berlebih.


Menurut laporan penelitian itu, tingkat pemanasan suhu laut telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Penelitian itu menunjukkan bahwa laju pemanasan telah meningkat cepat hampir 4,5 kali dalam rentang waktu terakhir, yakni pada periode tahun 1987 hingga 2019, bila dibandingkan dengan periode tahun 1955 hingga 1986. suhu rata-rata laut pada tahun 2019, mencapai 0,075 derajat Celcius di atas rata-rata tahun 1981 hingga 2019. Meskipun tampaknya tidak terlalu tinggi, namun angka itu mewakili sejumlah besar suhu panas yang menyebar di lautan. Penulis utama studi, Lijing Cheng, seorang profesor di Institut Fisika Atmosfer di Beijing, menyamakan peningkatan panas laut selama 25 tahun terakhir dengan panas dari ledakan 3,6 miliar bom atom Hiroshima.Peningkatan suhu lautan mempunyai dampak yang luas, baik untuk kehidupan di laut maupun darat. Bahkan para ahli menyebut kebakaran hutan baru-baru ini di Australia sebagai efek nyata akibat naiknya suhu di lautan yang berdampak ke daratan.

Related Article  Pertanian: Masihkah Jadi Prioritas?


Tentunya dampak paling nyata dari pemanasan global adalah perubahan iklim secara signifikan. Kenaikan suhu global memicu mencairnya es dikutub dan menyebabkan terjadinya pemuaian massa aur laut. Pola tersebut juga menyebabkan pergeseran musim dan perubahan pola curah hujan dan bisa jadi mempengaruhi ketahanan pangan.


Jika berbicara mengenai air laut yang kian panas dan menjadi akselerator api, kini kita merujuk pada protokol utama yakni SDGs 2030 dan Kesepakatan Iklim Paris. Target yang cukup ambisius dari SDGs untuk menurunkan suhu dan emisi gas global harus di breakdown dengan sangat rapi oleh semua sektor dan pemangku kebijakan. Pengelolaan lingkungan harus sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Hal tersebut yang tentunya perlu sinergitas antar elemen dalam menyusun regulasi, program, serta tahapan pembangunan jangka panjang.
Kondisi alam saat ini tentunya semakin memprihatikan, tentunya kita tidak boleh hanya terus menerus menikmati fakta bahwa suhu air laut terus meningkat. Tetapi, harus ada aksi nyata dalam upaya menanggulangi kondisi yang terjadi sedikit demi sedikit. Suhu Lautan Jadi Akselerator Perubahan Iklim


Untuk solusi sendiri cukup banyak mulai dari penerapan pertanian berkelanjutan, pengurangan jumlah kendaraan, dsb. Tetapi itu semua tidak bisa terpenuhi tanpa adanya kerjasama dan niatan global untuk mewujudkan hal tersebut. Contohnya misal karhutla, jika kita melihat data, bahwa karhutla yang sejatinya merupakan proses alam untuk pembaruan vegetasi justru volumenya hanya 7 %. Dan 93 % persen karhutla diakibatkan oleh ulah manusia. Hal tersebutlah yang diperlukan refleksi tentang betapa kompleksnya kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Nelayan Dilema Saat Pandemi Menyapa
Next post Budidaya Udang Vaname (Persiapan Air)