Antara Resiko Terjangkit Covid-19 Atau Petani Gagal Panen

Dunia saat ini digemparkan oleh serangan tak kasat mata namun ampuh dalam membunuh. Kenafikan dan ketakutan hadir di tengah-tengah masyarakat dunia meski optimisme menjadi bekal untuk bertahan dari serangan itu. Corona virus diesease 2019 (covid-19) adalah wabah penyakit yang menjadi pandemic dikalangan dunia saat ini, dimana virus ini berasal dari Wuhan, Tiongkok yang merambah ke berbagai negara di dunia. Tercatat sampai sekarang ini sudah 141 negara yang diserang dengan jumlah kematian sekitar 5.829 dan jumlah yang sembuh sekitar 73.955 kasus. Antara Resiko Terjangkit Covid-19 Atau Petani

Indonesia adalah satu negara yang tidak lolos dari serangan covid-19 ini dimana data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.790 positif, 170 dinyatakan meninggal dan 112 dinyatakan sembuh pada Kamis 2 April 2020. Angka yang cukup untuk membuat warga Indonesia merasa panik.

Setelah masuknya covid-19 di Indonesia tentunya strategi pemerintahan dalam menangani wabah ini sangat di perlukan, langkah awal yang di keluarkan pemerintah melalui keputusan presiden RI adalah social distancing yang kemudian melalui rapat kabinet presiden 31 Maret 2020 mengeluarkan peraturan pemerintah (PP) mengenai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai bentuk cara memutus rantai penyebaran covid-19 ini yang berlandaskan UU no 6 tahun 2018.

Mengikuti aturan pemerintah tentang PSBB dan sosial distancing, di tengah masyarakat Indonesia telah marak tagar #dirumahaja sebagai bentuk penerapan pembatasan sosial untuk mencegah penularan covid-19 ini. Antusiasme masyarakat terlihat di berbagai sosial media meski bercampur rasa kepanikan. Namun disisi lain ada beberapa masyarakat yang harus keluar rumah yang dihadapkan dengan pilihan berat. Dalam hal ini adalah petani kita yang dibeberapa wilayah Indonesia sedang panen hingga memaksanya keluar rumah karena kepanikan akan gagal panen ditengah kondisi saat ini. Petani kita berada dalam dilema antara tidak keluar rumah namun tidak jadi panen dan itu aset yang menghidupi keluarganya atau keluar rumah yang memiliki resiko terjangkit covid-19. Namun kebanyakan petani kita memilih keluar rumah karena hasil taninya lebih penting untuk keberlangsungan hidup anak cucunya sambil melempar doa akan tidak terjangkit virus.

Namun kebanyakan petani kita memilih keluar rumah karena hasil taninya lebih penting untuk keberlangsungan hidup anak cucunya sambil melempar doa akan tidak terjangkit virus

Melihat situasi saat ini peran strategis pemerintah harus memberikan perlakuan khusus terhadap petani kita. Kita ketahui bahwa aturan presiden berlaku secara umum namun jika tegaskan kepada petani kita itu akan berdampak buruk baik dari sisi ekonomi keluarga tersebut maupun ekonomi negara. Dalam hal ini kementerian pertanian kita sudah menyiapkan protokol kesehatan khususnya untuk para petani yang sedang panen saat ini dibeberapa wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Timur, NTB, Sulsel dan wilayah lainnya. Sejauh ini peran protokol tersebut dari kementerian masih terfokus pada sosialisasi perlindungan diri terhadap virus ini seperti mencuci tangan, penggunaan APD seperti masker, jangan keseringan memegang wajar utamanya hidup sama mulut yang harus diterapkan oleh para petani saat panen. Hal ini diperuntukkan agar petani kita tidak terjangkit meski harus keluar rumah.

Related Article  Pengembangan Food Estate Jadi Prioritas

Sosialisasi dari protokol kesehatan kementerian pertanian tidak cukup untuk memotong rantai penyebaran virus meski dilakukan secara rutin oleh para petani kita. Letak penularan yang akan dihadapi oleh para petani kita adalah saat proses distribusi hasil panen ke pabrik atau perusahaan. Hal ini terjadi karena datangnya para penyalur atau pedagang pengepul untuk mengangkut hasil panen petani yang dimana para penyalur itu bisa datang dari luar daerah petani tersebut dan itu mesti terjadi karena para petani kita tidak punya akses langsung ke perusahaan, pabrik atau gudang dan lumbungng tanpa melalui penyalur.

Olehnya itu pemerintah daerah harus ikut berperan dalam proses distribusi tersebut untuk menjaga para petani kita tidak terjangkit oleh para penyalur yang datang dari luar daerah. untuk mencegah hal ini pemerintah hendaknya memeriksa setiap penyalur yang masuk ke daerah petani untuk memastikan mereka tidak membawa penularan kepada petani atau memberi para penyalur APD saat mengangkut hasil panen petani yang bisa dikerjasamakan dengan perusahaan, pabrik dan jasa pergudangan. Antara Resiko Terjangkit Covid-19 Atau Petani

Selain masalah distribusi, jika waktu karantika penanggulangan covid-19 ini relatif lama maka permasalahan selanjutnya dihadapi petani kita adalah sumber pangan utamanya protein karena hampir setiap daerah terjadi penutupan pasar. Masyarakat kota tergolong aman karena supermarket disediakan pekerja dengan perlindungan lengkap namun masyarakat kampung di desa tempat para petani yang jika pasar tradisional di tutup akan menjadi problem untuk memenuhi kebutuhan konsumsi mereka.

Oleh sebab itu pemerintah utamanya pemerintah desa menyediakan pasar safety bagi masyarakat kampung jika pasar tradisional di tutup karena sumber protein para petani tidak didapatkan dari ladang atau sawah melangkain dari pasar. Cukup penyediaan pasar yang aman karena kemampuan daya beli petani setelah panen terjamin aman, tidak seperti kebanyakan saudara kita di tengah kota yang tidak memiliki alat produksi seperti petani.

perlakuan khusus harus diterapkan untuk petani kita yang sedang berjuang demi ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi negara yang saat ini beresiko terancam tertular covid-19

Kolaborasi pemerintah dari tingkat desa sampai kementerian menjadi perlu untuk melindungi para petani kita dan untuk mengamankan stabilitas ekonomi negara dengan memperhatikan hasil panen petani serta tetap menjaga petani kita dari serangan covid-19 ini, jadi perlakuan khusus harus diterapkan untuk petani kita yang sedang berjuang demi ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi negara yang saat ini beresiko terancam tertular covid-19. Jika tagar #dirumahaja banyak dilontarkan oleh masyarakat kita maka tagar para petani kita #diladangaja. Biar petani menjamin kebutuhan konsumsi kalian di yang dirumah saja sebagai bentuk perjuangan melawan situasi ini maka dari itu petani kita butuh perlindungan dari pemerintah.

Related Article  Momen Hari Tani Baru Saja Berlalu, PR Besar Menanti

Penulis : Yusran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Pertanian: Masihkah Jadi Prioritas?
Next post Melirik Kondisi Rantai Pasok Pangan Ditengah Pandemi