Metode-Metode Budidaya Rumput Laut

Kekayaan Sumberdaya hayati laut Indonesia merupakan karunia Allah SWT, Berbagai potensi biota laut terkandung di dalamnya di antaranya adalah algae yang lebih dikenal adalah Rumput laut. Rumput Laut hidup diperairan indonesia (1899-1900) yang dikenal ekpedisi sibolga, menemukan 782 jenis Rumput Laut yaitu : 196 algae hijau, 134 algae cokelat, dan 452 algae merah. Pusat penyebaran Rumput Laut yaitu Kep Spermonde, Sulsel, Sulteng, Sulteng, P. Bali, P. Sumbawa, P. Sumba dan Perairan Maluku.Berbagai jenis Rumput Laut  (RL) tersebut terdapat beberapa jenis yang memiliki nilai ekonomis  & telah diperdagangkan sejak dahulu, baik untuk konsumsi domestik maupun ekspor.  Jenis RL yang telah dikenal yaitu : Eucheuma sp (Eucheuma cottonii dan Eucheuma Spinosum), Gracillaria (Gracilaria gigas & Gracilaria verrucosa), Geledium sp, Hypnea sp & sargassum sp. Metode-Metode Budidaya Rumput Laut

Rumput laut (seaweed) merupakan salah satu komoditas perikanan yang potensial dan mulai banyak dikembangkan untuk dibudidayakan karena banyaknya manfaat dari rumput laut

Manfaat rumput laut di antaranya dapat digunakan sebagai produk farmasi, kosmetik, pangan dan lainnya. Rumput laut jenis Gracilaria sp. dan Eucheuma sp. adalah jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Gracilaria sp termasuk dalam kelas alga merah (Rhodophyta) dan merupakan jenis rumput laut penghasil agar (agarofit), sedangkan Eucheuma sp. merupakan jenis rumput laut penghasil karaginan (karaginofit)

Adapun beberapa metode budidaya rumput laut yaitu :

  1. Metode dasar (bottom method)

Pada metode ini bibit rumput laut diikat kemudian ditebarkan ke dasar perairan. Dapat pula dilakukan dengan mengikat bibit rumput laut pada batu karang. Metode lepas dasar sesuai  untuk lokasi budidaya dengan dasar perairan yang rata, berpasir dan tidak berlumpur.

METODE DASAR
  • Metode rakit apung (floating raft)
Related Article  Pengawetan Ikan Menggunakan Suhu Rendah

Metode rakit apung dilakukan dengan penanaman menggunakan rakit apung berukuran antara 2,5 x 2,5 m2 sampai 7 x 7 m2 yang umumnya terbuat dari bambu berdiameter 9-10 cm. Agar rakit tidak hanyut terbawa arus, perlu ditahan dengan menggunakan jangkar atau diikat pada pancang/patok kayu yang saling berhadapan pada kedua sudut rakit dan ditancapkan pada dasar perairan. Metode ini cocok untuk perairan yang memiliki kedalaman 60 cm.

METODE RAKIT APUNG
  • Metode rawai panjang (long line method).

Metode rawai panjang dilakukan dengan mengikat bibit rumput laut pada tali ris yang direntangkan dengan panjang 25 m dan menggunakan 2 pancang/patok. Pada tali ris diikatkan tali anak yang saling berselang antara jarak 25 cm. Digunakan pelampung yang biasa dibuat dari botol, pelampung diikatkan sepanjang tali setiap 2,5 m. Metode-Metode Budidaya Rumput Laut

METODE LONG LINE

Tahapan Budidaya Rumput Laut :

  1. Penyediaan bibit
  2. Bila jaraknya dekat dengan lokasi budidaya, maka bibit dapat diangkut dengan sampan namun harus ditutup dengan terpal
  3. Biarkan bibit selalu basah dengan menyiramnya dengan air laut,
  4. Jangan biarkan bibit terkena air hujan
  5. Jika bibit tidak langsung ditanam sebaiknya disimpan di t4 bibit (seed bin) yang telah disiapkan
  • Penanaman bibit
  • Pengikatan bibit pada tali ris dengan jarak 25 cm setiap rumpun dengan panjang tali ris 50 – 75 m yang direntangkan pada tali utam
  • Pengikatan tali jangkar pada tali utama
  • Pengikatan pelampung dari botol polietilen (600 ml) pada tali ris.
  • Pemeliharaan
  • Kegiatan yang dilakukan selama pemeliharaan rumput laut adalah membersihkan lumpur dan kotoran, menyulam tanaman yang rusak, mengganti tali, patok, bambu dan pelampung yang rusak. 
  • Pemanenan
  • Pemanenan dilakukan setelah rumput laut mencapai bobot tertentu, biasanya setelah 45-60 hari.
  • Pemanenan dilakukan dengan mengambil rumput laut dari perairan kemudian rumput laut dicuci sebelum diangkut ke darat.
  • Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari agar pada siang hari rumput laut dapat langsung dijemur. Selain itu juga dihindari pemanenan pada saat terjadi hujan.
Related Article  KKP Dorong Inovasi Produk Perikanan Ditengah Pandemi Covid-19

Nah sahabat tanilogic, Semoga Artikel ini dapat menambah wawasan kita semua.

Penulis : Jumriani Syam

Bagikan Artikel Ini

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *