Prediksi Puncak El Nino & Wilayah RI Ini Defisit Air

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, fenomena El Nino masih akan berlanjut sampai Februari tahun 2024. Sementara itu, BMKG mengungkapkan, 79% wilayah RI kini sudah masuk musim kemarau.

Seperti diketahui, Indonesia saat ini tengah mengalami fenomena iklim El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Yang memicu musim kemarau lebih ekstrem dan suhu lebih panas. Di mana, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati pernah mengatakan, kedua fenomena itu, El Nino dan IOD Positif, menyebabkan anomali kenaikan suhu permukaan yang lebih panas dan penurunan curah hujan di Indonesia. Dia pun memperingatkan, efek perubahan iklim, El Nino dan IOD Positif semakin sering terjadi.

Mengacu Analisis Dinamika Atmosfer-Laut, Analisis & Prediksi Curah Hujan yang dirilis BMKG, update Dasarian III Agustus 2023, fenomena El Nino moderat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif masih akan berlangsung sampai akhir tahun 2023. Puncak indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO/ anomali pada suhu permukaan laut) akan terjadi di bulan Desember 2023. Dan, secara bertahap menurun.

Sementara, IOD positif diprediksi akan terjadi hingga Oktober 2023m kemudian meluruh menuju netral. Hasil pemutakhiran dasarian III Agustus 2023 menunjukkan, indeks ENSO pada periode Agustus III (tanggal 21-akhir bulan) 2023 sebesar plus 1,504 atau El Nino moderat.

“BMKG dan beberapa Pusat Iklim Dunia memprediksi El Nino terus bertahan pada level moderat hingga Desember-Januari-Februari 2024,” tulis BMKG, dikutip Kamis (7/9/2023). Analisis itu juga menunjukkan, 79% wilayah Indonesia kini masuk musim kemarau. Data tersebut adalah per 1 September 2023.

Disebutkan, dari 699 Zona Musim (ZOM) di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, Maluku, dan Papua, sebanyak 549 ZOM mengalami musim kemarau dan 37 ZOM mengalami musim hujan. Sementara, 113 ZOM lainnya mengalami tipe 1 musim. Tipe 1 musim artinya mengalami 1 musim sepanjang tahun, meski BMKG tak menyebutkan jenis musim yang terjadi.

Related Article  Kementan Dorong Peningkatan Kualitas Jagung sebagai Bahan Pakan

Sementara itu, pada 5 September 2023, BMKG merilis, sejumlah wilayah di Indonesia defisit ketersediaan air bagi tanaman. Pada bulan Agustus 20223, menurut BMKG, sebagian wilayah di Jawa, NTB, NTT, dan Aceh, dalam kategori kuning, orange, dan merah tingkat ketersediaan air tanah bagi tanaman. Merah artinya ketersediaan air hanya 0-20%, orange hanya 20-40%, dan kuning 40-60%. Sedangkan wilayah lainnya di Indonesia dalam kategori hijau, dengan tingkat ketersediaan air tanah bagi tanaman berkisar 60-80% dan 80-100%.