Panen Beras Diprediksi Capai 33 Juta Ton, Kementan Dinilai Berhasil Jaga Keamanan Pangan

Data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan posisi Kementerian Pertanian (Kementan) yang berhasil menjaga keamanan dan mengendalikan situasi pangan nasional di tengah pandemi Covid-19. Hal tersebut tercermin dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang memprediksi hasil panen beras periode 2021 mencapai 33 juta ton. Lebih besar dari realisasi hasil panen tahun 2020 yang hanya 31,33 juta ton. Dilihat dari data yang ada luas panen padi pada 2020 sendiri diperkirakan sebesar 10,66 juta hektare atau mengalami penurunan sebanyak 20,61 ribu hektare (0,19 persen) dibandingkan tahun 2019. Sementara itu, produksi padi pada tahun 2020 diperkirakan sebesar 54,65 juta ton GKG. Jika dikonversikan menjadi beras, produksi beras pada tahun 2020 mencapai sekitar 31,33 juta ton atau meningkat sebesar 21,46 ribu ton (0,07 persen) dibandingkan dengan produksi beras tahun 2019. Panen Beras Diprediksi Capai 33 Juta Ton, Kementan Dinilai Berhasil Jaga Keamanan Pangan

Dilaporkan pula, stok beras yang ada di Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) mencapai 1,39 juta ton yang terdiri dari 1,37 juta stok cadangan beras pemerintah dan 14.765 ton stok beras komersial. Bahkan, selama pandemi pada triwulan II 2020, BPS mencatat sektor pertanian mengalami pertumbuhan sebesar 16,24 quarter on quarter (QoQ) dengan kenaikan nilai ekspor dari Januari hingga Desember sebesar 15,79 persen atau sekitar Rp 451,77 triliun. Kemudian, BPS juga mencatat, pertumbuhan sektor pertanian pada triwulan I tahun 2021 mencapai 2,95 year on year (YoY).

Adapun, nilai tukar petani (NTP) dan nilai tukar usaha petani (NTUP) pada Mei 2021 mengalami kenaikan cukup signifikan. Kenaikan ini terjadi secara konsisten sejak Oktober 2020 hingga Mei 2021. NTP Oktober 2020 sebesar 102,25, November 102,86, Desember 103,25, Januari 2021 sebesar 103,26, Februari 103,10, Maret 103,29, April 102,93, kemudian Mei mencapai 103,29 atau naik sebesar 0,44 persen. Sementara itu, NTUP mengalami kenaikan yang konsisten sejak Oktober 2020. Pada bulan ini nilai NTUP sebesar 1002,42. Kemudian NTUP November 2020 (103,28), Desember 2020 (104,00). Lalu NTUP Januari 2021(104,01), Februari 2021 (103,72), Maret 2021 (103,87), April 2021 (103,55), Mei 2021 mencapai 104,04 atau naik 0,48 persen.

Related Article  Pertanian Indonesia Jauh Tertinggal; Benarkah?

BPS baru-baru ini juga melaporkan, nilai ekspor pertanian pada Juni 2021 mengalami kenaikan sebesar 33,04 persen month to month (MtoM) atau sebesar 15,19 persen secara (YoY). Kenaikan nilai ekspor tersebut terjadi karena andil besar komoditas tanaman obat, aromatik, rempah, kopi dan sarang burung walet selama Juni 2021.

BPS menyebutkan, secara nilai, ekspor pertanian mencapai 0,32 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Ekspor nonmigas ini secara nasional menyumbang 93,36 persen dari total nilai ekspor periode Juni 2021 yang mencapai 18,55 miliar dolar AS atau meningkat 9,52 persen.

Adapun secara kumulatif, ekspor nonmigas selama Januari hingga Juni 2021 mengalami kenaikan 94,35 persen, di mana sektor pertanian mencapai 1,95 dolar AS atau mengalami peningkatan sebesar 14,05 persen. Konstribusi sektor pertanian mampu meningkatkan produk domestik bruto (PDB), NTP, ekspor produk pertanian, dan penyerapan tenaga di sektor pertanian.

Kontribusi sektor pertanian dalam PDB periode 2019 tercatat sebesar 12,09 persen. Jumlah ini naik menjadi 15,01 persen pada 2020. Adapun khusus sektor tanaman pangan, yang semula 21,63 persen pada 2019 naik menjadi 25,82 persen pada 2020.

Saat ini produksi beras Indonesia juga tidak beda jauh jika dibandingkan dengan negara Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) lainnya. Produktivitas beras Indonesia yang sebesar 5,24 ton per hektar (ha) masih berada di atas Thailand yang sebesar 3,33 ton per ha dan berbeda sedikit dibandingkan Vietnam, yakni 5,42 ton per ha.

Untuk persediaan beras nasional saat ini stok beras tersedia diperkirakan tembus hingga 10 juta ton. Menteri Pertanian menyatakan pada musim penanaman dan panen pertama tahun ini (Januari-Juni), total produksi beras ditaksir mencapai 17,56 juta ton sementara konsumsi pada waktu yang sama sebanyak 14,67 juta ton. Dengan kata lain, terdapat surplus beras sekitar 3 juta ton. Ditambah dengan stok sisa 2020 kurang lebih 7,39 juta ton sehingga diperkirakan total stok beras sampai 10,29 juta ton.

Related Article  Permintaan Jahe Melonjak Selama Pandemi

Adapun pada musim penanaman dan panen kedua (Juli-Desember) ditargetkan penanaman padi di lahan seluar 5 juta hektare dengan target produksi 14 juta ton. Panen Beras Diprediksi Capai 33 Juta Ton, Kementan Dinilai Berhasil Jaga Keamanan Pangan

Bagikan Artikel Ini

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

bagian ini berisi iklan adsense: