Menanti Peran BULOG Ditengah Pandemi

Peran Bulog sebagamana dilansir dalam laman resmi perum BULOG salah satunya adalah menjaga tiga pilar ketahanan pangan melalui persediaan yang cukup, akses dan harga beras yang terjangkau oleh masyarakat dan melakukan stabilisasi harga. Pilar ketersediaan, Bulog bertanggung jawab untuk menyerap/memperoleh stok melalui Pengadaan gabah/beras DN dalam jumlah yang cukup untuk kepentingan penyaluran rastra, golongan anggaran dan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) untuk kepentingan darurat dan operasi pasar. Kita harus menjaga ketersediaan stok pada kisaran aman /MSR (Minimum Stock Requarement) untuk kebutuhan minimal 3 bulan. Menanti Peran BULOG Ditengah Pandemi

Pada pilar keterjangkauan Bulog mendistribusikan beras secara merata diseluruh wilayah tanah air melalui movement nasional maupun movement regional, sehingga beras bisa diakses oleh seluruh masyarakat dengan harga yang terjangkau. Kemudian pilar stabilitas, Bulog wajib menjaga harga beras pada kisaran harga yang stabil dengan melakukan penyerapan pada saat panen raya untuk menjaga harga gabah/beras tidak jatuh dibawah HPP dan melakukan intervensi pasar melalui Operasi Pasar pada saat musim paceklik atau pada saat harga tinggi.

Menanti Peran BULOG Ditengah Pandemi

Kondisi inilah yang membuat peran BULOG sangat penting dalam mengontrol kondisi petani dan pasar. Dalam kondisi pandemi covid-19, peran BULOG sangat perlu terkait perannya untuk menjadi off-taker komoditas pertanian untuk menjamin ketersediaan stok pangan nasional dan menyerap produk pertanian para petani nasional. Perannya juga untuk menjaga pendapatan jutaan petani Indonesia yang saat ini mengalami kelesuan pasar akibat dampak pandemi covid-19. Menanti Peran BULOG Ditengah Pandemi

Sektor pertanian dinilai terdampak signifikan akibat pandemi covid-19. Saat ini komoditas pertanian, seperti sayuran dan hortikultura, yang diproduksi petani serapan pasarnya rendah.  Ini karena berkurangnya bandar-bandar yang selama ini membeli produk pertanian dari petani dan menyuplai ke pasar-pasar dan industri, akibat lesunya ekonomi, terganggunya jalur distribusi logistik, dan menurunnya daya beli masyarakat

Related Article  Melirik Komoditi Unggulan Pertanian Indonesia

Ketersediaan pangan selama pandami adalah sesuatu hal yang harus dipastikan sejak dini, utamnya cadangan beras pemerintah. Menurut data informasi lapangan, stok beras saat ini di Bulog sekitar 1,4 juta ton. Sementara kebutuhan beras rata-rata sekitar 2,5 juta ton–3 juta ton per bulan.

Cadangan beras diharapkan bertambah dengan masa musim panen bulan Juli 2020. Namun, tentunya perkiraan produksi yang diprediksi menurun karena iklim dan cuaca yang fluktuatif. Penurunan produksi padi ini akibat keterlambatan mulai menanam karena iklim dan cuaca yang kurang mendukung. Keterlambatan masa tanam tersebut berdampak pada meningkatnya hama, salah satunya tikus. Pantauan lapangan di produksi padi petani turun dari rata-rata sekitar 5-6 ton per hektar menjadi 3-3,5 ton per hektar. 

Solusinya, pasca panen diharapkan masyarakat mengotimalkan produksi padi untuk menjaga produksi nasional, dengan meningkatkan dukungan pemerintah terkait penyediaan air, irigasi, dan pendukung lainnya.

Untuk pengendalian dan stabilitas ketersediaan pangan dan mendorong peningkatan produksi pertanian nasional secara berkesinambungan, sesuai amanah undang-undang, pemerintah untuk segera membentuk Badan Otoritas Pangan, yang akan menjadi regulator dan pengendali pangan nasional serta mengkoordinasikan dengan instansi-instansi terkait.

Meski persediaan beras terbatas ,tidak merekomendasikan impor beras untuk saat jangka pendek ini. Karena berdasarkan pengalaman, proses impor juga membutuhkan waktu, realisasinya bisa 2-3 bulan kemudian. 

Salah satu hal yang harus juga jadi perhatian adalah ketidakseimbangan supply and demand yang kadang berbeda dan jadi masalah dibeberapa pasar. Hal tersebut karena adanya perbedaan harga yang tidak wajar.

Referensi :

Bulog.co.id

suaramerdeka.news (Foto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Pertanian Indonesia Jauh Tertinggal; Benarkah?
Next post Diversifikasi Berbasis Komoditas Pangan Lokal