Permintaan Jahe Melonjak Selama Pandemi

Pandemi Covid-19 melumpuhkan sebagiam besar sektor ekonomi. Para ekonom global telah memprediksi ekonomi dunia melambat tahun ini. Tak ada negara yang akan mencapai target pertumbuhan karena terhentinya produksi, turunnya konsumsi, akibat aktivitas masyarakat dibatasi untuk mencegah penularan virus yang menyerang saluran pernapasan ini.


Ekonomi Indonesia sendiri diprediksi hanya tumbuh 1% bahkan negatif—dari target 5,3% tahun ini—akibat pandemi corona yang melumpuhkan pelbagai sektor, jika penanganannya meleset dan virus corona meluas tak terkendali. Pemerintah Indonesia tengah menggodok stimulus ekonomi tahap III untuk menahan laju penurunan itu.


Namun muncul fenomena yang berbeda saat pandemi ini terjadi, yakni permintaan terhadap produk petani hutan meningkat, seperti jahe merah, empon-empon, dan produk-produk lain yang mengandung banyak vitamin C untuk menaikkan kekebalan tubuh.


Saat virus corona atau Covid-19 mewabah dan tidak sedikit menelan korban jiwa, ternyata jahe, kencur, dan kunyit atau utamanya bahan berbau rempah paling laris diburu masyarakat. Bukan hanya di Tanah Air, produk pertanian yang dulunya dipandang sebelah mata, saat ini juga menjadi primadona di berbagai mancanegara. Harganya pun kini melambung tinggi.


Utamanya rempah, yakni Jahe dan kunyit yang dianggap dapat meningkatkan imunitas tubuh tersebut, apalagi ketika mengetahui Presiden Joko Widodo tetap sehat karena mengkonsumsi minuman ini, masyarakat pun juga berburu rempah – rempah ini di pasar. Jahe dan kunyit dianggap sebagai pertahanan tubuh di tengah wabah corona selain menggunakan masker dan hand sanitizer.


Harga pun kian melambung, bahkan beberapa pedagang kewalahan dalam menangani proses permintaan yang meningkat drastis. Menurutnya, pedagang tidak bisa melakukan pembelian dalam jumlah besar dari distributor jahe karena dibatasi. Pedagang pun tidak mau membeli jahe dalam jumlah banyak karena mengkhawatirkan harganya kembali normal, apalagi sampai turun di bawah harga Rp 20 ribu/kg. Sebab, pembelian jahe merah dari distributor sekitar Rp 60 ribu – Rp 70 ribu/kg.


Di kota Medan misalnya, harga temulawak juga mengalami kenaikan dari harga sebelumnya sekitar Rp 10 ribu/kg naik menjadi Rp 15 ribu – Rp 20 ribu/kg. Begitu juga dengan harga kunyit, yang sebelumnya dijual Rp 5.000/kg naik menjadi Rp 8.000 sampai dengan Rp 12 ribu/kg. Kenaikan harga pada ketiga bumbu masakan ini tidak terlepas dari mewabahnya virus corona.


Di media jejaring sosial, harga jahe, kunyit maupun temulawak yang sudah diolah dalam bentuk kemasan jamu itu dijual seharga Rp 60 ribu sampai Rp 90 ribu untuk setiap bungkusnya. Tidak sedikit masyarakat yang melakukan pemesanan secara online karena kesulitan mendapatkan jahe merah itu di pasar tradisionil. pascamewabahnya virus corona di berbagai negara, permintaan ekspor jahe pun meningkat dan didonimasi dari negara Jepang, Malaysia dan Singapura. Permintaan ini pun dipastikan terus mengalami peningkatan dari negara lainnya.


Mantan Sekjen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Benny Pasaribu menyampaikan, rempah – rempah hasil komoditi pertanian di Indonesia, seperti jahe, kunyit dan temulawak, sudah sejak lama menjadi primadona di mancanegara. Sebab, rempah – rempah ini dianggap memiliki banyak khasiat dan bermanfaat untuk tubuh.


“Seperti jahe merah, bila dikonsumsi dapat mengurangi gejala demam, flu, mengurangi rasa mual, radang tenggorokan, mengoptimalisasi fungsi paru – paru, mencegah hipertensi dan lainnya. Begitu juga dengan kunyit, disebutkan antiperadangan, meningkatkan kekebalan tubuh, menyehatkan pencernaan, menurunkan kolestrol, mengobati asma, meningkatkan kesehatan jantung,” jelasnya.


Untuk manfaat temulawak, sambungnya, dapat meningkatkan daya tahan tubuh, menghilangkan pegal-pegal dan gejala masuk angin, dan berbagai penyakit lainnya seperti maag, sakit kepala, gangguan ginjal dan empedu, kembung, serta dapat mencegah jerawat.


“Sehingga tidak dapat dipungkiri lagi, jahe, temulawak, kunyit maupun rempah – rempah lainnya, paling diburu masyarakat luar maupun dalam negeri untuk meningkatkan imunitas tubuh dan mencegah penularan virus corona yang sudah mewabah di belahan dunia. Bila dikonsumsi, jahe, kunyit dan temulawak merupakan pertahanan dalam tubuh,” sebutnya.


Besar harapan tentunya pandemi covid-19 juga semakin meningkatkan perhatian semua orang tentang pertingnya menjaga kesehatan utamanya mengonsumsi pangan sehat dan rutin menjaga daya tahan tubuh, misalnya mengonsumsi hasil olahan rempah utamanya jahe dan temulawak. Karena tentunya sangat berkhasiat dalam menangkal berbagai macam penyakit dan meningkatkan imunitas tubuh.

Referensi :

Republika.co.id (Foto)

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *