Kesiapan Petani Menyambut New Normal

Penulis : Yusran

Dunia pertanian saat ini menjadi pondasi yang menguatkan setiap negara dalam situasi rumit saat ini. Sekitar 3 sampai 4 bulan kecaman situasi oleh pandemi adalah waktu yang cukup melahirkan ketegangan sebagai efek dari pandemi tersebut, grafik penularan saat ini sedikit mengobati harap yang selama ini dipanjatkan. Penurunan angka menunjukkan bahwa masa transisi menuju kenormalan mulai terlihat dan tentunya hal disambut setiap negara sebagai sesuatu yang menggembirakan.

Petani ditengah masa kecaman tersebut berhasil bertahan menguatkan dan mencegah krisis pangan terjadi khususnya di Indonesia. Nyatanya para petani tetap bisa surplus panen ditengah pandemi meski rantai menuju ke hilir mengalami kontraksi kuat dan hal ini sempat menurunkan semangat bagi para petani. Namun saat ini masa transisi menuju kenormalan baru atau new normal menjadi berita segar untuk para petani serta sektor lainnya, lantas bagaimana kesiapan petani menyambut new normal?


Kondisi pangan Indonesia saat ini masih stabil, sesuai dari data Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian persedian beras Indonesia masih bisa di jamin sampai Agustus mendatang. Selain itu 11 komoditi bahan pokok lainnya yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat pun sekarang ini masih tetap terjaga dan terkendali, seperti beras, jagung, bawang merah, bawang putih, daging ayam, gula dan minyak goreng. Titik fokusan saat ini bukan lagi tentang persedian stok melainkan persoalan distribusi mengingat masih ada beberapa wilayah defisit pangan dan wilayah lainnya kelebihan, selain itu adalah perhatian terhadap petani itu sendiri selaku produsen. Sarana produksi sampai kepasar menjadi soal bersama untuk dipecahkan antara petani itu sendiri dengan pemegang kewenangan selaku pemangku kebijakan. Jumlah produksi masih tetap menjadi prioritas pemerintah agar kebutuhan masih tetap terjamin. Intervensi impor dan ekspor, penguatan para pelaku usaha tani, koordinasi antara pemerintah dengan petani, jaminan sosial adalah langkah yang kini diambil oleh pemerintah.


Kenormalan baru atau new normal menumbuhkan kembali semangat petani untuk produksi karena sebelumnya semangat sempat menciut saat cekaman terjadi, memberi gairah untuk kembali turun keladang, memupuk harapan yang mungkin sempat layu. Harga jual menurun, keterbatasan pasar, pembatasan distribusi adalah hal penggugur semangat yang dialami para petani akan tetapi disamping semua itu petani Indonesia tetap bertahan dengan hasil yang memuaskan serta menjaga ketahanan pangan.

Kalaulah serangan covid-19 jika diibaratkan mengenai muka maka banyak sektor dalam suatu negara bermuka benjol atau berdarah, tapi muka sektor pertanian cuma tergores sedikit khususnya bagian budidaya. Optimisme kini kembali berkoar dilingkup petani namun tentu dalam menghadapi kenormalan ini akan ada tantangan baru yang akan dihadapi, pembatasan tetap ada, protokoler tetap berjalan jadi olehnya itu petani harus berpikir.
Petani kini harus disiapkan menghadapi kenormalan baru sebagai kondisi yang harus dihadapi kedepan.

Pola lama akan tergantikan dengan pola baru, sistem dan format kini telah diupgrade untuk memperpendek rantai interaksi karena pandemi belum sepenuhnya hilang. Misalnya pola pasar yang berubah menjadi serba digital, BPS mencatat petani Indonesia saat ini 4,5 juta pengguna internet maka dengan situasi sekarang petani diharuskan melek teknologi sebab market place adalah solusi cemerlang untuk memasarkan produk petani saat ini.

Digital market adalah pasar baru yang harus dimasuki para petani, penyesuaian serta pendampingan edukasi akan lalu lintas pasar tersebut perlu untuk petani. Digital market sendiri dapat memotong rantai distribusi sekaligus memotong rantai interaksi yang terjadi. Pola pelayanan pun demikian, dari manual ke digital. Selain itu pola konsumsi masyarakat pun berubah dimana hal ini masyarakat lebih memperhatikan higenitas produk yang akan dibeli atau dikonsumsi, dengan begitu market place akan menjadi pasar yang akan mendominasi konsumen sebab standar kebersihan tentu dapat dijamin karena rantai distribusi semakin pendek.

Keinginan masyarakat menjadi singkronisasi pemahaman yang harus dimiliki petani saat ini tentang bagaimana caranya produknya dapat menyentuh semua kalangan masyarakat. Menyambut new normal petani dituntut untuk lebih berkreasi dan berinovasi dalam memasarkan produknya, dengan usaha e-commerce saat ini yang mulai berkembang di Indonesia menjadi jalan untuk menunjang proses perluasan akses pasar bagi para petani. Dari segi on farm, petani berhasil menanganinya dengan sarana seadanya namun tentu juga hal ini harus dilirik oleh pemerintah guna mencapai target produksi.

Selama ini dari segi off farm petani kualan menanganinya sebab akses banyak terbatasi, jalan ke hilir adalah akses Selami ini terkendala. Pengolahan hasil panen pun menjadi tantangan petani melihat intensitas pengolahan hasil panen masih kurang maksimal diterapkan oleh petani Indonesia. Aspek pengolahan merupakan salah satu faktor yang akan meningkatkan Nilai Tukar Petani (NTP) sebagai indikator kesejahteraan petani, tentunya dengan pengolahan harga bisa dikendalikan lebih mudah.


Situasi mendatang menghadapi new normal jumlah permintaan akan meningkat dan hal ini menjadi berita gembira bagi petani sebab jika demand meningkat maka harga akan meningkat. Pabrik pengolahan pangan akan kembali beroperasi, UKM serta restoran mulai kembali dibuka, pasar tradisional pun demikian ditambah kebutuhan sehari-hari masyarakat maka lonjakan permintaan akan terjadi. Ini menunjukkan bahwa stok penyediaan bahan pangan harus terjaga dan mampu memenuhi jumlah permintaan dan hal ini dapat diperoleh jika petani tetap bisa produksi dengan normal. Ketersediaan stok bahan pangan mesti diformat sedemikian rupa agar usaha agrikultur kembali bangkit dari keterpurukan. Penyediaan buffer stok dan pemberdayaan Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) oleh pemerintah harus dioptimalkan diiringi dengan harga mendukung bagi petani, seperti kita ketahui sebelumnya setelah panen para petani terpaksa menjual hasil panennya dengan harga murah dikarenakan penyimpanan membutuhkan harga dan bahan yang mudah rusak, pengolahan tidak dilakukan.


Merespon jumlah permintaan yang akan meningkat tentunya sedikit membutuhkan waktu jika dilihat keadaan petani Indonesia saat ini sebab baru-baru ini hampir setiap daerah di Indonesia sudah melakukan panen sekita bulan April dan Mei. Hal ini menunjukkan bahwa barulah di sekitar bulan Mei dan Juni ini para petani sedang menanam, jadi butuh beberapa waktu baru bisa kembali panen. Untuk padi sekitar bulan Agustus kembali akan panen dan untuk sayur-sayuran akan ada panen bulan ini dan bulan depan. Gambaran demikian itu memperingatkan bahwa stok bahan pangan akan berkurang dari segi ketersediaan diwaktu tertantu, manajemen penyediaan serta kalkulasi distribusi perlu diperhatikan.


New normal akan menjadi babak baru bagi petani yang akan menjadikan petani semakin siap menghadapi tantangan zaman. Akan tetapi hal tersebut belum bisa tercapai jika ukuran tangan dari pemerintah tidak menjangkau para petani. Tentunya pemerintah kini sedang mempersiapkan petani untuk hal itu tinggal melihat format kebijakan kedepan. Jika kenormalan baru akan tiba, lantas apakah petani ikut normal? Sejatinya petani tidak bisa sejahtera tanpa uluran tangan yang lebih sebab petani berarti dititik hulu dalam sebuah rantai sistem. Jikalau petani ditanya tentang kesiapan mengahadapi new normal tentu petani siap karena hal inilah yang selama ini ditunggu. Akan tetapi kesiapan petani bukan berarti diabaikan dalam pendampingan namun justru sebaliknya, kesiapan petani adalah sikap optimis yang harus dapat menstimulasi pemerintah untuk lebih agresif dalam melihat petani Indonesia.

Foto : Dokumentasi TKN Jokowi-Ma’ruf (Kompas.com)

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *