Saat Ketahanan Pangan Nasional Dalam Pusaran Ancaman

Penulis : Jumriani Syam

Tidak terpungkiri, Indonesia telah lama memasuki era terpuruknya jumlah pasokan bahan makanan akibat ditiadakannya sistem ekspor impor dan krisisnya sangat dirasakan dalam beberapa bulan terakhir ini.

Sejumlah petani menyiangi sawah tadah hujan di Desa Porame, Kinovaro, Sigi, Sulawesi Tengah. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/kye/16

Ancaman Ketahanan pangan merupakan suatu fenomena merosotnya ketersediaan segala sesuatu yang berasal dari sumber daya hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumen manusia, termasuk bahan tambahan pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan pembuatan makanan atau minuman.

World Health Organization (WHO) mendefinisikan tiga komponen utama ketahanan pangan, yaitu ketersediaan pangan, akses pangan, dan pemanfaatan pangan.

Puncaknya yaitu, Di tahun 2020 saat ini yang dipenuhi dengan drama wabah hinggap di suatu negara adalah hal yang tak terpikirkan oleh para penyedia sarana maupun prasarana, jika diamati penyakit yang menyerang tanah ibu pertiwi adalah virus yang dikenal dengan nama Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2), virus yang menyerang sistem pernapasan, akibat Penularannya yang begitu cepat sehingga menghasilkan pandemi yang berkelanjutan.

Untuk meminimalisir jumlah terinfeksi di suatu negara termasuk negara indonesia memberlakukan sistem PSBB (pembatasan sosial berskala besar) yang dimana orang-orang tidak lagi bebas berlalu lalang di suatu daerah dan diminta untuk tetap tinggal dirumah saja, kerja dan bersekolah dirumah, dan menjaga jarak antar sesama.

Kepanikan orang-orang timbul setelah diberlakukannya segala bentuk pencegahan dalam memutus rantai penularan covid-19 sehingga mereka berlomba-lomba untuk memenuhi kebutuhan hidup selama masa karantina berlangsung.

Hal inilah yang menyebabkan menurunnya tingkat ketersediaan pangan dipasaran.

Related Article  Aksesibilitas Pangan Lokal Harus Ditingkatkan

Namun spekulasi dari pertanyaan

“Jika jumlah ketersediaan pangan semakin menurun akan jadi apa negara kita nantinya? dan “Lantas, Sampai kapan kita harus dihantui dengan ancaman kelaparan?” Mampu terbantahkan dengan keteguhan para petani,nelayan dan segala aspek industri makanan cepat saji lokal  yang terus menerus menyediakan jasa mengolah dan menciptakan makanan sebagaimana tugas dan fungsinya.

Langkah yang dapat ditempuh untuk menanggulangi terjadinya bom krisis pangan yaitu, Dengan memanfaatkan potensi ikan, menggunakan sumber daya lokal secara lebih efisien lewat perwujudan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan. Dikutip dari info satu harapan (2016), Sejak 1960an penganekaragaman  konsumsi pangan sudah diperkenalkan. Namun, program ini masih jalan ditempat  karena kerap hilang dari agenda pembangunan kedaulatan pangan. Dengan memproduksi produk pangan beragam bergizi seimbang dan aman serta tersedia dalam bentuk siap olah serta terjangkau daya beli, Indonesia akan lepas dari perangkap pangan impor yang kapitalistik itu. Sehingga masyarakat harus mengubah pola makan dengan memperkenalkan kembali budaya makan lokal.

Indonesia memiliki sumber pangan lokal yang sangat beragam dan setiap daerah memiliki kekuatan budaya untuk mengangkat citra pangan lokal. Sekedar menyebut contoh masyarakat Sumatera Utara telah mengampanyekan  manggadong (mengonsumsi produk olahan ubi) guna mendukung program “one day no rice” untuk mengurangi konsumsi beras 1,5 persen per tahun.  Saat sarapan,  makan siang maupun malam, ritual manggado.

Sejarah mencatat bahwa energi yang mampu menggerakkan kedaulatan pangan adalah kearifan lokal. Nenek moyang kita membuktikan itu. Bahan pangan lokal mulai dari jagung, pisang, sagu, sorgum hingga berbagai jenis ubi tersebar di seantero negeri. Lewat kearifan lokal yang dimiliki, bahan pangan tersebut dikembangkan secara baik sebagai makanan pokok sekaligus memperkuat ekonomi keluarga.

Related Article  Melirik Komoditi Unggulan Pertanian Indonesia

Untuk itu pemerintah harus lebih mengupayakan kebangkitan masyarakat indonesia dalam menumbuhkan rasa nasionalisme mereka agar tetap mengembangkan makanan lokal dan tidak bergantung pada kenikmatan makanan non budaya indonesia (Budaya Asing), Sebagai penangkal dari krisis ketahanan pangan yang setiap saat bisa saja terjadi seperti sekarang ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Pandemi Covid-19; Dalang Dari Kritisnya Masa Kerja Nelayan
Next post Petani Resah, Anjlok Harga Pangan Di Kala Pandemi