Potensi Pengembangan Tanaman Florikultura

Kementerian Pertanian (Kementan) mengatakan, industri florikultura terus mengalami pertumbuhan signifikan selama beberapa dekade belakangan ini. Pertumbuhan kebutuhan florikultura di pasar domestik rata-rata per tahun mencapai sekitar 21,8 persen.

Indonesia dengan kekuatan sumber daya alam, agroklimat, dan sumber daya manusia yang dimanfaatkan secara optimal, sangat memungkinkan Indonesia dapat mengambil pangsa pasar florikultura internasional sekaligus memperkuat pasar domestik.

Indonesia mampu bersaing di pasar dunia. Guna meningkatkan daya saing produk, Kementan melakukan upaya peningkatan mutu, produktivitas dan efisiensi produksi florikultura. Selain itu juga dukungan teknologi inovatif yang siap diterapkan di lapangan

Kementan melakukan berbagai inovasi teknologi, kelembagaan maupun manajemen yang sesuai dengan kemajuan florikultura dalam negeri. Salah satu wujud nyata yang tengah kami kembangkan adalah Kampung Florikultura. Melalui konsep ini, diharapkan akan terbangun kawasan florikultura dalam satu wilayah administratif desa atau kelurahan berskala ekonomi yang menguntungkan petani.

Tanaman florikultura sendiri merupakan suatu kelompok jenis tanaman hortikultura yang bagian atau keseluruhannya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan keindahan, keasrian dan kenyamanan di dalam ruang tertutup dan/atau terbuka. Budidaya tanaman florikulktura adalah semua kegiatan pratanam, penanaman, pemeliharaan, pemanenan dan pasca panen florikultura.

Tanaman florikultura merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan memiliki prospek yang sangat cerah sebagai komoditas unggulan ekspor maupun untuk pemasaran dalam negeri. Pada era perdagangan global, tidak lagi mengandalkan hambatan tarif tetapi lebih menekankan pada hambatan teknis berupa persyaratan mutu, sanitary dan phytosanitary. Kondisi ini menuntut produsen meningkatkan daya saing produknya termasuk tanaman florikultura.

Dari sisi potensi sumberdaya, prospek agribisnis florikultura antara lain ditunjukkan dengan beberapa kondisi. Pertama,Indonesia merupakan wilayah tropis yang memiliki agroklimat tropis (wilayah dataran rendah) dan agroklimat mirip subtropis (wilayah dataran tinggi).

Related Article  Covid-19 Sambut Ramadhan Dengan Lonjakan Harga Bahan Pangan

Hampir seluruh komoditas agribisnis florikultura di dunia dapat dikembangkan di Indonesia karena kondisi kedua agroklimat tersebut. Kedua,potensi keragaman jenis florikultura sehingga keragaman tersebut memungkinkan untuk memenuhi hampir semua segmen pasar florikultura internasional. Ketiga,potensi ketersediaan lahan bagi pengembangan tanaman hias di Indonesia yang masih cukup luas sehingga ruang gerak pengembangan agribisnis yang relatif land based seperti umunya florikultura masih cukup besar. Keempat, teknologi dan sumberdaya manusia untuk pengembangan florikultura relatif tersedia.

Pusat-pusat teknologi florikultura baik di lembaga pemerintah maupun di perguruan tinggi telah berkembang. Demikian juga sumberdaya manusia di mana keberagaman sumberdaya manusia bukan kendala bagi pengembangan agribisnis melainkan potensi karena setiap kualifikasi tenaga kerja memiliki relung pada agribisnis florikultura.

Previous post KKP Luncurkan Integrated Maritime Intelligent
Next post Pendekatan Pasar, Kunci Pengembangan Usaha Hutan Berbasis Masyarakat