Genjot Produksi Padi Dengan IP 400

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus menggenjot upaya peningkatan produksi padi untuk dapat memastikan stok beras nasional secara terpadu. Saat ini musim tanam sudah masuk dibeberapa wilayah di Indonesia. Pemerintah memperkenalkan konsep pola tanam IP 400 untuk meningkatkan produksi padi secara signifikan yang nantinya akan dikelola dalam suatu korporasi berbasis petani. Genjot Produksi Padi Dengan IP 400

Penerapan indeks pertanaman 400 merupakan upaya yang dilakukan untuk peningkatan produksi untuk bisa mencapai surplus produksi padi dan bisa mencapai target panen sebanyak 4 kali dalam waktu setahun pada lahan yang sama. Dengan target yang luas biasa, penerapan maksimal IP 400 butuh persiapan ekstra khususnya pada persediaan lahan sejak dini, kemudian daya tahan lahan itu sendiri yang meliputi persediaan air, proses pemanfaatan benih umur genjah dan super genjah dan tentunya didukung oleh proses mekanisasi pula.

Petani memindahkan bibit tanaman padi yang siap ditanam di Desa Tegal Wangi, Tegal, Jateng, Rabu (31/12). ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/ss/pd/14

Untuk memaksimalkan diperlukan pula irigasi teknis untuk menjamin dengan maksimal ketersediaan air yang cukup yang merupakan kunci dalam proses keberhasilan pola tanam IP 400. Untuk penggunaan benih, sistem persemaian diluar dengan sistem culik, dapog, tray dianjurkan untuk memaksimalkan daya tahan benih saat ditanam nantinya. Untuk memastikan hasil tersebut ada beberapa varietas padi unggulan yang dianjurkan untuk ditanam diantaranya Inpari 19 (103 HSS), Inpari 20 (104 HSS), Inpari Sidenuk (103 HSS), Inpari Pajajaran (105 HSS), Inpari Cakrabuana (105 HSS), Inpari 12 (99 HSS), Inpari 13 (99 HSS). Beberapa varietas diatas dapat dipanen 80-90 hari setelah semai (HSS). Tentunya dengan teknik semai diluar area tanam dengan umur 15-25 hari, maka waktu panen akan lebih cepat lagi dihitung dari hari setelah tanam (HST).

Related Article  Indonesia Resesi Mulai Hari Ini, Simak Langkah Kementan

Dengan teknik IP 400 proses manajemen tanam dan panen diharapkan bisa rampung dalam 5-10 hari dengan penerapan mekanisasi secara intensif dan juga tentunya untuk pemeliharaan menggunakan pupuk organik dan pengurangan penggunaan pestisida secara bertahap. Penerapan mekanisasi dengan pengunaan traktor dan panen dengan combine harvester bisa mempercepat proses penanaman dan panen secara signifikan. Adapun untuk meminimalisier OPT maka lahan akan menerapakn pola pemberantasan hama secara terpadu untuk memaksimalkan fungsi lahan.

Selain itu untuk mengoptimalkan fungsi lahan maka lahan dengan indeks 3 kali panen dapat ditanami palawija sebagai selingan dan untuk lahan tadah hujan dapat menggunakan embung untuk aktivitas lain misalnya budidaya lele dan sayur dengan penerapan model integrated farming. Penerapan IP 400 diharapkan bisa meningkatkan stok beras pada interval MT I Oktober 2020 – Maret 2021. Untuk optimalisasi program pemerintah juga meluncurkan akses KUR secara massif untuk program budidaya dan hilirisasi. Genjot Produksi Padi Dengan IP 400

Bagikan Artikel Ini

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

bagian ini berisi iklan adsense: