Mengenal Penyakit Udang Vaname Dan Pencegahannya

Penulis : Muh. Taqwa

Perkembangan setiap tahunnya membawa peluang bagi beberapa orang yang mempunyai keberanian untuk menjadi pengusaha yang sukses, dalam perjalanannya dibidang akuatik banyak yang memilih untuk membudidayakan udang vaname.

Bukan tanpa alasan sobat tanilogic, disisi lain bahwa harga dari jual udang vaname sangat menguntungkan dan waktu budidaya yang efisien juga sangat singkat dari pada jenis udang lainnya. Akan tetapi dalam proses budidaya tidak selamanya berjalan mulus sampai target yang di inginkan tercapai, seperti yang kita ketahui udang vaname juga makhluk hidup sama seperti kita bernyawa dan mempunyai masa hidup.

Udang mati karena White Feses Disease

Dari hal ini kita menginginkan udang budidaya kita bisa hidup paling cepat 100 hari karena di umur 100 biasanya target size yang di inginkan pembudidaya sudah tercapai. Akan tetapi dalam perjalanan menuju 100 hari budidaya, pasti ada hal yang tidak di inginkan terjadi, seperti pergeseran plankton, planktonk/bakteri yang tidak menguntungkan tumbuh, cucaca ekstream berubah-ubah yang mengakibatkan suhu tidak normal, hujan asam dan perubahan pH yang sangat drastis dari asam sampai basa, adanya pembusukan dasar dan toxic, dan masih banyak lagi hal-hal lain yang dapat menyebabkan masalah pada budidaya udang vaname.


Walaupun kita tahu banyak soal morfologi udang vaname, tetapi naluri kita ke udang vaname tidak semudah apa yang kita pikirkan seolah-olah menebak apa yang di inginkan, dalam tulisan ini kita hanya berbagi pengalaman dan berusaha solutif sebagai manusia yang berpikir tentunya kita melihat situasi dan kondisi lingkungan budidaya kita dan orang lapangan yang banyak lebih tahu.


Yang pertama kita bahas yang paling umum yaitu adanya pergeseran plankton dan pembusukan dasar. Kita ketahui bahwa plankton juga makhluk hidup dan masa hidupnya paling lama sekitar 7 hari dan paling cepat 3 hari. Perbedaan jenis plankton yang mati menghasilkan toxic yang berbeda pula, seberti Blue Green Algae dan dinoflagellata katika sudah mati maka akan membentuk kelekap dan kelekap inilah harus kita angkat karena apabila kita biarkan begitu saja maka akan tenggelam kedasar dan menjadi toxic, proses nitrifikasi tidak selamanya berjalan baik didalam air, karena perubahan NH3 ke NO2 sudah pasti, dan jika angka tinggi ditambah PO4 juga tinggi maka tingkat toxicnya juga tinggi, biasanya dalam kondisi seperti ini kita harus menjaga salinitas diatas 20 ppt.

NH3 & N02 sangat tinggi


Penggunaan kapur dolomite juga dapat dilakuakan untuk mengikat dengan dosis 2 ppm dan langsung buang air untuk membuang kotoran yang sudah terikat itu oleh kapur, juga boleh dengan kultur bakteri bacillus dan lactobacillus atau jenis bakteri pengurai lainnya seperti Nitrosomonas sp, Nitrobacter dll.


Penyakit lainnya yang paling memukul pembudidaya ketika organisme yang budidaya terserang penyakit ini adalah Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) yang di kenal di dunia tambak dengan sebutan Myo atau ngapas, penyakit ini menyerang organ sehingga menyebabkan kerusakan otot pada udang dan ciri-cirinya bisa dilihat adanya daging yang menggumpal warna putih pada tubuh udang, ekor berwarna merah dan biasanya juga rontok, penyakit ini biasanya timbul karena oksigen atau DO didalam air dibawah 4 sehingga komsumsi oksigen udang sedikit dinamis dan fotosintesis plankton sedikit, penyakit myo juga disebabkan olen infeksi parasite.

Microsporida (Telonia) termasuk jenis parasit yang menginfeksi didalam tubuh udang, kualitas air yang buruk juga sangat mempengaruhi timbulnya penyakit udang ini sehingga udang stress yang mengakibatkan udang kram otot dan udang terlihat ngapas atau perlahan timbul warna putih pada otot bagian dalam, dan udang akan mengalami kematian dalam waktu dekat, penyebab terjadinya kram otot juga disinyalir oleh ketidakcukupan kebutuhan udang yaitu kalium dan magnesium.

Dari infeksi bakteri biasanya juga dapat dilihat pada sungut udang yang putus dan tidak rata, hal ini mengindikasikan bahwa udang sudah terinfeksi bakteri. Dalam penangannanya ketika udang sudah terjangkit atau terinfeksi penyakit ini, maka akan susah disembuhkan dan satu-satunya jalan terakhir adalah panen, akan tetapi ketika umur udang masih kecil maka perlu dikenali gejala sehingga dapat diatasi dengan cepat seperti pemberian vitamin C yang dicampur pada pakan, pengelolaan kualitas air yang baik dan menjaga mutu air dan menjaga kecukupan magnesium, kalium dan kalsium untuk udang sehingga kesehatan udang tetap terjaga.


Penyakit udang yang mematikan lainnya adalah WSSV (White Spot Syndrome Virus) atau kita kenal sebagai bintik-bintik putih berdiameter 0.5-2 mm pada lapisan eksoskeletone dan epidermis yang menyebabkan udang tidak mau makan yang menyebabkan kematian massal pada udang. Untuk masalah seperti ini diperlukan penerapan biosecurity pada tambak.
Kemudian yang adalah white feses disease (WFD), atau di Indonesia dikenal dengan sebutan berak putih. Penyakit ini adalah gangguan pada pencernaan dan biasanya melukai usus sehingga terjadi infeksi pada saluran pencernaan yang mengakibatkan penyerapan nutrisi tidak normal.

Kita harus tahu asal terjadinya white feses ini karena apa. Penulis sedikit berbagi dari pengalaman selama berkecimpung didunia udang, untuk WFD sendiri biasanya disebabkan oleh bakteri vibrio yang tinggi, dan jenis vibrio sendiri juga banyak, dan kita kenal yang berbahaya adalah vibrio spp yang menyebabkan WFD pada udang, biasanya bakteri ini tumbuh dari perubahan cuaca yang signifikan seperti setelah hujan sangat lebat terus langsung berubah terik panas dan pada vibrio sendiri bukan hanya didalam air akan tetapi juga didalam tubuh udang sehingga pada usus udang tidak normal.

Serangan penyakit ini biasanya akan menurunkan produksi budidaya karena dapat menyebabkan kematian yang begitu banyak, petumbuhan lambat, pada ususnya terlihat putus-putus bahkan kosong dan udang pucat dan lemah. Adapun gejala yang ditimbulkan pada aair biasanya ada kotoran putih dengan Panjang sekitar 2-4 cm mengambang di atas air. Biasanya pada pembudidaya menggunakan bakteri bacillus subtilis yang terbukti mampu menekan pertumbuhan vibrio.


Selain itu juga biasanya dengan partial atau mengurangi populasi sehingga jumlah dari organisme budidaya tidak banyak dan konsumsi oksigen tidak tertalu dinamis dan juga tentunya menjaga stabilitas air seperti alkalinitas air berada di 120-200, Kalsium yang dibutuhkan udang tercukupi, dan unsur mineral lainnya yang seimbang. (referensi penulis rangkum dari perjalanan beberapa farm di Yogyakarta, Purworejo, Kebumen dan Cilacap).


Masih banyak jenis penyakit lainnya yang menyerang pertumbuhan udang vaname, tetapi penulis hanya merangkum dari beberapa pengalaman yang ditemui dibeberapa farm yang pernah di kunjungi di Jawa Tengah, dan tidak menutup kemungkinan di beberapa daerah bahkan luar negeri sekalipun ada penyakit ada virus lainnya yang bisa menyebabkan kematian pada udang seperti Infectious Hepatopancreatic and Haemotopoitic Necrosis Virus (IHHNV), Taura Syndrome Virus (TSV), Covert Mortality Nodavirus (CMNV) dan Yellow Head Virus (YHV) dan masih banyak lagi yang lainnya.

“hidup tanpa kebermanfaatan adalah hidup yang sia-sia”


Penulis hanya manusia biasa yang berusaha menuangkan pengalaman kedalam bentuk tulisan, penulis berharap sekiranya tulisan ini dapat bermanfaat dan menjadi rujukan referensi untuk pelaku usaha akuatik khususnya komoditi udang vaname (Litopenaus Vannamei)
Kita hanya berusaha dan terus belajar dan bekerja keras untuk keberhasilan budidaya kita, karena udang juga harus dimanjakan agar bisa nyaman dengan rekayasa lingkungan yang kita buat sesuai dengan lingungan hidup aslinya karena kita semua ingin budidaya kita berhasil.

Semoga dapat bermanfaat SALAM SUKSES DAN SALAM BAHARI

Selengkapnya Penyakit Pada Udang Vaname

Foto : (MUHTAQWA/TANILOGIC)

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *