Hutan Dunia Yang Semakin Terancam

Keberadaan hutan dibeberapa negara seiring waktu terancam oleh berbagai peristiwa yang terjadi. Sebut saja kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Karhutla saat ini merupakan akibat yang paling riil dari menurunnya luas hutan didunia. Kerusakan yang terjadi umumnya ulah manusia dan faktor alam. Hal tersebut juga karena belum mampunya suatu negara untuk mengelola hutan dengan sebaik-baiknya. Dunia masih segar dengan peristiwa karhutla terbesar di Australia pada periode Desember 2019 – Januari 2020. Sampai 30 Januari 2020, lebih dari 11 juta hektar lahan hutan, semak-semak, dan padang rumput di Australia terbakar. 13 juta hektar lahan terbakar dalam peristiwa tersebut. Dari semua wilayah di Australia, New South Wales dan Victoria menjadi daerah yang paling terdampak. Setidaknya 6,5 juta hektar di kedua wilayah tersebut hangus terbakar. Bencana ini juga menyebabkan lebih dari 2.000 rumah rusak dan 33 orang tewas. Beberapa sumber menyebutkan bahwa kejadian tersebut merupakan karhutla terbesar sepanjang sejarah. Luasan lahan yang terbakar saja hampir sama dengan luas negara Inggris. Peristiwa tersebut termasuk salah satu karhutla terparah di Australia. Dalam catatan sejarah, karhutla selalu terjadi masif di tenggara Australia, terutama New South Wales dan Victoria. Makin maraknya karhutla menyebabkan jumlah luasan hutan yang makin tahun makin menurun. Hal tersebut tentunya sangat berdampak akan kondisi dunia dimasa depan. Utamanya dalam hal antisipasi perubahan iklim dan anomali cuaca dunia yang kian ekstrim. Karhutla sendiri tidak hanya menyebabkan luasan hutan menurun, namun disisi lain juga menyebabkan menurunnya vegetasi hutan. Hal tersebut juga diperparah dengan kegiatan deforestasi yang terus menerus dilakukan. Salah satu kegiatan yang sering dijadikan alasan untuk membuka lahan secara luas adalah kegiatan pertanian.

Citra Satelit yang diperoleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), yang memperlihatkan kepulan asap di hutan hujan tropis Amazon akibat kebakaran pada pertengahan Agustus 2019 (NASA)

Meski dianggap menguntungkan untuk menjamin ketersediaan pangan, namun hal tersebut bisa menjadi ancaman, utamanya bagi hutan tersendiri, karena fungsi dari hutan yang disubstitusi dan ekosistem yang rusak. Pembukaan lahan tanpa memerhatikan aspek hutan sebagai penyangga ekosistem dan paru-paru dunia menyebabkan tingkat keparahan tersendiri. Dilansir dari laman Forest Watch Indonesia menyebutkan bahwa ada beberapa problem terkait hutan selain karhutla dan deforestasi, disebutkan bahwa penyebab langsung dari kerusakan hutan dan deforestasi di Indonesia adalah: (1) konversi hutan alam menjadi tanaman tahunan, (2) konversi hutan alam menjadi lahan pertanian dan perkebunan, (3) eksplorasi dan eksploitasi industri ekstraktif pada kawasan hutan (batu bara, migas, geothermal), (4) pembakaran hutan dan lahan, dan (5) konversi untuk transmigrasi dan infrastruktur lainnya. Tingginya deforestasi dan degradasi hutan menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca (GRK) ditingkat global. Penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca tersebut adalah aktivitas perubahan penggunaan hutan dan lahan atau yang dikenal dengan istiah LULUCF (Land Use, Land-Use Change and Forestry). Jika ditelusuri lebih jauh, tekanan ekonomi juga merupakan faktor yang menyebabkan deforestasi, hal ini terjadi karena kegiatan tersebut dapat meningkatkan taraf ekonomi pemilik lahan yang ada, karena adanya upah atau keuntungan. Kurangnya edukasi kearah pelestarian menyebabkan hal tersebut marak terjadi. Faktor itupula yang menggiring banyak orang melakukan hal yang sama secara terus menerus dengan skala yang semakin besar.
Kegiatan deforestasi dan karhutla juga menyebabkan kemampuan hutan untuk menyerap karbondioksida menurun drastis. Beberapa studi menyebutkan bahwa fungsi hutan hujan tropis justru sebaliknya yakni tidak dapat menyerap gas karbondioksida. Hal tersebut bisa saja memicu pemanasan global yang sangat cepat dan perubahan iklim secara drastis. Adapun hal lain yang memengaruhi yakni temperatur tinggi dan kekeringan. Dalam satu dekade terakhir disebutkan bahwa hutan tropis hanya mampu menyerap 25 miliar ton gas karbondioksida. Jumlah tersebut hanya 6 persen dari total emisi gas global. Jika hal tersebut terus menerus terjadi, maka akan ada suatu masa dimana hutan tropis justru menjadi penghasil karbondioksida. Hal tersebut memang belum terlalu dirasakan untuk saat ini, karena luasan lahan hutan tropis masih bisa menekan laju emisi gas dan polusi, namun jika tidak ada upaya serius untuk menanganinya maka akan menyebabkan bencana yang luar biasa dikemudian hari. Deforestasi, perubahan iklim, dan risiko kebakaran hutan semuanya terkait secara langsung. Dan kobaran api pada gilirannya akan meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Menurut kelompok lingkungan Greenpeace, sekitar 8 miliar ton CO2 dilepaskan oleh api setiap tahunnya.

“Namun menyadari hal tersebut untuk pertama kali adalah hal yang harus dilakukan terlebih dahulu”

Perubahan iklim yang tidak terkendali akan menjadi ancaman global, jika kebijakan pengelolaan hutan tidak segera ditangani dengan serius. Meskipun persoalannya demikian kompleks, namun menyadari hal tersebut untuk pertama kali adalah hal yang harus dilakukan terlebih dahulu.

Referensi :
http://fwi.or.id/publikasi/deforestasi-potret-buruk-tata-kelola-hutan/ (diambil pada 15 April 2020)

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Hutan Dunia Yang Semakin Terancam

  1. Kalimantan yang notabenenya memiliki hutan terbesar di Indonesia, kepunahan endemik nya pun sudah besar, dan kehadiran dari proyek besar pembangunan ibukota baru akan berpengaruh besar, bagaimanakah nasib hutan kita kedepannya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *