Bogor – Humas BRIN. Upaya memperkuat basis ilmiah dalam pengelolaan hutan nasional memasuki tahap baru melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pusat Riset Mikrobiologi Terapan (PRMT) BRIN dan Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan (P2HB) Sekretariat Jenderal KLHK. Kerja sama ini menjadi landasan strategis dalam pengembangan riset mikrobioma serta pemanfaatannya bagi keberlanjutan ekosistem hutan Indonesia.
PKS tersebut memformalkan sinergi kedua lembaga yang telah terjalin sebelumnya, sekaligus membuka peluang kolaborasi lebih luas mencakup riset mikroba, pertukaran data ilmiah, peningkatan kapasitas SDM, hingga pembentukan Technical Knowledge Management Hub (TKMH) Kehutanan sebagai simpul pengetahuan terintegrasi. Kehadiran TKMH diharapkan memperkuat keterhubungan antara riset, kebijakan, dan teknologi dalam pengelolaan hutan tropis.
Kepala PRMT BRIN, Ahmad Fathoni, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari komunikasi intensif beberapa bulan terakhir. Ia menyebut sinergi lintas disiplin—mulai dari mikrobiologi, ekologi, hingga zoologi—menjadi fondasi penting dalam pengelolaan hutan.
“Pengembangan hutan berkelanjutan tidak mungkin hanya bertumpu pada satu disiplin. Kolaborasi lintas ilmu menjadi kunci agar pengelolaan dan pemanfaatan hutan dapat dilakukan secara berkelanjutan,” katanya saat penandatangan PKS d Bogor.
Fathoni menambahkan bahwa PRMT memiliki pengalaman panjang dalam riset mikroba bersama berbagai mitra, termasuk industri. Ia berharap kemitraan dengan P2HB dapat dirancang dalam skema jangka panjang sehingga hasil riset mikrobiologi memberi kontribusi nyata bagi program kehutanan, termasuk optimalisasi kawasan hutan binaan P2HB untuk konservasi dan peningkatan nilai ekonomi.
‘’Kerja sama juga akan diarahkan pada riset bioprospeksi yang relevan dengan kebutuhan nasional, seperti pengembangan pangan hutan (superfood), jamur konsumsi, serta inovasi berbasis kayu energi. Agenda tersebut selaras dengan arah kebijakan BRIN yang menekankan konsolidasi riset nasional serta peningkatan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat,’’ sebut Fathoni.
Kepala P2HB Gun Gun Hidayat mengapresiasi komitmen PRMT BRIN dalam mendorong riset yang berdampak langsung bagi masyarakat sekitar hutan. Ia menilai isu ketahanan pangan dan energi dapat dijawab melalui riset mikrobiologi. “Kami sepaham bahwa ketahanan pangan merupakan isu strategis yang bisa didorong melalui keahlian PRMT serta modalitas yang ada di P2HB,” ujarnya.
Gun Gun mengungkapkan bahwa kolaborasi ini merupakan penguatan dari kerja sama sebelumnya. Jika sebelumnya fokus pada pengumpulan dan pengembangan koleksi mikroba, kini penelitian akan diarahkan pada pemanfaatan mikroba untuk ketahanan pangan dan energi, termasuk riset jamur konsumsi dan bioprospeksi mikroba lokal.
‘’Dengan adanya PKS, seluruh proses kerja sama dari perencanaan hingga pelaksanaan lapangan, memiliki landasan kelembagaan yang lebih kuat, sehingga mampu mempercepat lahirnya inovasi berbasis sains untuk sektor kehutanan,’’ tegas Gun Gun.
Penandatanganan PKS ini menjadi bukti komitmen nasional dalam memperkuat pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk pengelolaan hutan tropis Indonesia. Melalui sinergi BRIN dan KLHK, riset mikrobioma diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah ilmiah, tetapi juga mendukung keberlanjutan ekosistem hutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan.
Kolaborasi ini menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang terus memperkuat riset kehutanan yang maju, inovatif, dan berdampak jangka panjang.
