Kelahiran Bayi Orangutan Liar Terpantau di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh

Upaya pelestarian Orangutan Sumatera di Provinsi Jambi kembali menunjukkan perkembangan positif. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi mencatat kelahiran satu individu bayi orangutan liar di kawasan Bentang Alam Bukit Tiga Puluh. Bayi tersebut merupakan keturunan dari induk orangutan hasil rehabilitasi dan pelepasliaran yang sebelumnya ditangani di Stasiun Orangutan Rehabilitasi dan Konservasi (SORC) Sungai Pengian.

Kelahiran ini menjadi bukti bahwa orangutan hasil rehabilitasi tidak hanya mampu bertahan hidup di alam liar, tetapi juga berhasil beradaptasi dan berkembang biak secara alami di habitat hutan hujan tropis Sumatera. BKSDA Jambi menilai peristiwa ini sebagai indikator penting keberhasilan program konservasi jangka panjang, khususnya dalam upaya pemulihan populasi Orangutan Sumatera yang berstatus terancam punah.

Bayi orangutan tersebut pertama kali terpantau pada 16 November 2025. Saat itu, tim monitoring pasca-pelepasliaran dari Frankfurt Zoological Society (FZS) sedang melakukan pengamatan rutin terhadap orangutan betina Citrawan dan bayinya di kawasan hutan dekat tepian Sungai Pengian. Dalam pengamatan tersebut, tim melihat orangutan betina Rambo Aprilia muncul sambil menggendong seekor bayi jantan yang diperkirakan berusia kurang dari satu bulan.

Selama proses pemantauan, induk dan bayi teramati dalam kondisi sehat dan aktif. Bayi terlihat melekat erat pada induknya, menunjukkan perilaku alami seperti menyusu dan mengikuti setiap pergerakan induk saat berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Rambo Aprilia sendiri masih mampu bergerak cukup jauh setiap harinya sambil menggendong bayinya, yang menunjukkan kondisi fisik dan kemampuan adaptasi yang baik.

Hasil observasi lapangan juga mencatat bahwa Rambo Aprilia memiliki Body Condition Score (BCS) 3, yang menunjukkan kondisi tubuh ideal bagi orangutan liar. Selain itu, periode kelahiran yang terjadi pada bulan November bertepatan dengan awal musim buah di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh, sehingga ketersediaan pakan alami diperkirakan mencukupi kebutuhan nutrisi induk dan bayi.

Related Article  Akselerasi Implementasi Program Indonesia’s FoLU Net Sink 2030, KLHK Gandeng Humas Pemerintah

Kelahiran ini tercatat sebagai kelahiran orangutan reintroduksi ke-25 di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh. Rambo Aprilia merupakan orangutan yang diselamatkan dari perdagangan ilegal saat masih berusia sekitar empat tahun. Setelah menjalani proses rehabilitasi dan sekolah hutan pada tahun 2018, ia dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya pada 2019 dan terus dipantau secara berkala oleh tim monitoring.

Program reintroduksi orangutan Sumatera di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh merupakan hasil kerja sama jangka panjang antara BKSDA Jambi dan Frankfurt Zoological Society (FZS). Program ini mencakup rangkaian kegiatan mulai dari penyelamatan, rehabilitasi, pelepasliaran, hingga pemantauan berkelanjutan di alam. Sebagai bagian dari sistem pemantauan tersebut, bayi orangutan yang lahir di alam liar akan diberikan identitas pemantauan resmi sesuai ketentuan yang berlaku.

Melalui capaian ini, BKSDA Jambi berharap masyarakat semakin memahami bahwa upaya perlindungan habitat, pengelolaan satwa secara bertanggung jawab, serta kolaborasi berbagai pihak dapat memberikan dampak nyata bagi keberlangsungan Orangutan Sumatera di alam liar.

Sumber: Balai KSDA Jambi