Waspadai Bahaya Penyakit LSD Pada Sapi

Tepat pada bulan Januari 2023, masyarakat di wilayah Kulon Progo dikejutkan dengan munculnya penyakit baru yang menyerang sapi, yaitu penyakit LSD (Lumpy Skin Disease). Meskipun belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, dokter hewan di puskeswan telah bersiap untuk menangani penyakit ini.

Penyebaran virus Lumpy Skin Disease (LSD) yang menyerang pada sapi jenis PO di Kabupaten Kebumen juga semakin meluas. Setidaknya berdasarkan data terakhir pada Kamis 4 Mei 2023, ada 4.282 kasus, tersebar di semua kecamatan. Dari 4.282 kasus tersebut, 980 dinyatakan sembuh, 27 mati, 16 potong bersyarat, dan 3.269 merupakan kasus aktif. Saat ini kasus LSD juga terdeteksi di Lampung Tengah, lantas apa sebetulnya penyakit LSD pada sapi dan bagaimana cara penanganannya.

Apa Itu LSD Pada Sapi?

Sapi yang terpapar LSD (Foto:Ist)

Lumpy Skin Disease (LSD) adalah penyakit kulit infeksius yang disebabkan oleh Lumpy Skin Disease Virus (LSDV) yang merupakan virus bermateri genetik DNA dari genus Capripoxvirus dan famili Poxviridae. Virus ini umumnya menyerang hewan sapi dan kerbau. Belum ada laporan terkait kejadian LSD pada ruminansia lain seperti kambing dan domba.

Penularan LSD secara langsung melalui kontak dengan lesi kulit, namun virus LSD juga diekskresikan melalui darah, leleran hidung dan mata, air liur, semen dan susu. Penularan juga dapat terjadi secara intrauterine. Secara tidak langsung, penularan terjadi melalui peralatan dan perlengkapan yang terkontaminasi virus LSD seperti pakaian kandang, peralatan kandang, dan jarum suntik. Penularan secara mekanis terjadi melalui vektor yaitu nyamuk (genus aedes dan culex), lalat (Stomoxys spHaematopota sppHematobia irritans), migas penggigit dan caplak (Riphicephalus appendiculatus dan Ambyomma heberaeum).

LSD pertama kali dilaporkan di Zambia, Afrika pada tahun 1929 dan terus menyebar di benua Afrika, Eropa dan Asia. Pada tahun 2019, LSD dilaporkan di China dan India lalu setahun setelahnya dilaporkan di Nepal, Myanmar dan Vietnam. Pada tahun 2021, LSD telah dilaporkan di Thailand, Kamboja dan Malaysia. Sampai saat ini, penyakit ini belum ditemukan di Indonesia. Masa inkubasi LSD berkisar antara 1-4 minggu. Walaupun mortalitas penyakit ini dibawah 10%, namun morbiditas yang sering dilaporkan adalah sekitar 45%.

Related Article  Seperti Apa Itu Fortifikasi Pangan ?

Gejala klinis LSD dipengaruhi oleh umur, ras dan status imun ternak. Tanda klinis utama LSD adalah lesi kulit berupa nodul berukuran 1-7 cm yang biasanya ditemukan pada daerah leher, kepala, kaki, ekor dan ambing. Pada kasus berat nodul-nodul ini dapat ditemukan di hampir seluruh bagian tubuh. Munculnya nodul ini biasanya diawali dengan demam hingga lebih dari 40.5oC. Nodul pada kulit tersebut jika dibiarkan akan menjadi lesi nekrotik dan ulseratif. Tanda klinis lainnya yaitu lemah, adanya leleran hidung dan mata, pembengkakan limfonodus subscapula dan prefemoralis, serta dapat terjadi oedema pada kaki. Selain itu, LSD juga dapat meyebabkan abortus, penurunan produksi susu pada sapi perah, infertilitas dan demam berkepanjangan.

Kerbau terinfeksi LSD di Gandaki, Nepal. Tampak nodul pada lateral tubuh. (Sumber: Ganesh, 2020)

Diagnosis LSD di lapangan diawali dengan pengamatan gejala klinis dan didukung dengan data historis lokasi kejadian. Diagnosis definitis LSD hanya dapat dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Uji laboratorium yang umum digunakan untuk konfirmasi kasus LSD adalah Polymerase Chain Reaction (PCR). Sampel terbaik yang digunakan untuk uji adalah sampel dari lesi kulit. Selain itu, sampel lain yang dapat digunakan yaitu darah (whole blood), swab hidung dan air liur.

Uji lain yang dapat digunakan untuk deteksi LSD adalah isolasi virus, uji serologis yaitu Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA), Indirect Fluorescent Antibody Test (IFAT), Indirect Immunofluorescence Test (IIFT), Virus Neutralization Test (VNT), Serum Neutralization Test (SNT), dan uji Imunohistochemistry (IHC). Pada pemeriksaan post mortem ditemukan nodul-nodul pada otot, membran mukosa mulut, hidung, saluran pencernaan, paru-paru, hingga pada testis dan vesika urinaria.

Diagnosis banding LSD adalah pseudo-lumpy skin disease yang disebabkan oleh Bovine Herpesvirus-2 dengan gejala klinis yang lebih ringan dan berlangsung lebih singkat dibanding LSD, dermatophilosisringworm, gigitan serangga, rinderpest, demodekosis, infestasi Hypoderma bovisbovine papular stomatitis, urtikaria, cutaneous tuberculosis, dan onchocercosis.

Hingga saat ini belum ada pengobatan khusus terhadap LSD. Pengobatan untuk LSD bersifat symptomatik untuk mengobati gejala klinis yang muncul dan suportif untuk memperbaiki kondisi tubuh ternak terinfeksi.

Related Article  Jelang Lebaran, Pemerintah Pastikan Stok Daging Aman

Pencegahan secara spesifik dilakukan dengan vaksinasi. Sebagian besar vaksin LSD adalah  live attenuated, namun juga tersedia dalam bentuk inaktif. Vaksinasi untuk daerah bebas LSD seperti Indonesia tidak dilakukan. Kewaspadaan terhadap penyakit LSD di Indonesia perlu ditingkatkan dengan memperkuat sistem surveilans deteksi dini penyakit, memperketat pemeriksaan lalu lintas hewan, dan meningkatkan kapasitas pengujian dan diagnosis penyakit LSD.

LSD atau Lumpy Skin Disease adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dari keluarga Poxviridae. Penyakit ini ditandai dengan munculnya benjolan pada kulit sapi, terutama pada bagian leher, punggung, dan perut. Selain benjolan, sapi yang terinfeksi LSD juga dapat mengalami demam, kehilangan nafsu makan, lesu, dan mengalami penurunan produksi susu.

Penyakit LSD pada sapi disebabkan oleh virus dari keluarga Poxviridae. Virus ini menyebar melalui gigitan serangga seperti nyamuk dan lalat. Sapi yang terinfeksi akan mengalami periode inkubasi selama 5-14 hari sebelum timbul gejala. Penyebaran penyakit dapat terjadi secara cepat di antara sapi yang berada dalam kandang yang sama atau antara kandang yang berdekatan.

Cara Penanggulangan LSD Pada Sapi

Berikut ini adalah beberapa cara penanggulangan yang dapat dilakukan:

  1. Vaksinasi

Vaksinasi adalah salah satu cara yang efektif untuk mencegah penyebaran penyakit LSD pada sapi. Vaksinasi dapat dilakukan pada sapi yang belum terinfeksi dan pada sapi yang sudah terinfeksi namun masih dalam periode inkubasi.

2. Karantina

Sapi yang terinfeksi LSD harus segera dipisahkan dari sapi lain dan ditempatkan dalam karantina. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit ke sapi lain yang masih sehat.

3. Pengobatan

Sapi yang terinfeksi LSD dapat diberikan obat untuk mengurangi gejala penyakit seperti demam dan nyeri pada kulit. Pengobatan ini dapat membantu sapi untuk mempercepat pemulihan dan meningkatkan daya tahan tubuhnya.

Related Article  Kenali Apa Itu Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)

4. Pengendalian Serangga

Serangga seperti lalat dan nyamuk dapat menjadi vektor penyebaran virus penyebab LSD pada sapi. Oleh karena itu, pengendalian serangga harus dilakukan secara intensif dengan menggunakan insektisida dan menjaga kebersihan kandang.

Adapun beberapa langkah untuk pencegahan dini LSD yang bisa dilakukan adalah:

(1)  Lakukan pembersihan kandang secara rutin pagi sore dan lakukan penyemprotan dengan cairan desinfektan 
(2) usahakan kandang kering dan tidak lembab serta kena sinar matahari 

(3) Kenali secara dini munculnya gejala klinik LSD dengan meraba adanya benjolan di kulit dan segera lapor petugas, agar segera ditangani, 
(3) Bila sapi sakit segera berikan pakan yang berkualitas dan  beri jamu-jamuan herbal lokal. 
(4) Jangan panik dan lakukan perawatan yang baik agar sapi tidak terus dehidrasi, berikan minum air bersih yang cukup. 
(5) Sapi sakit LSD bisa disembuhkan. 
(6) penyakit LSD ini tidak ZOONOSIS alias tidak menular ke manusia dan dagingnya aman dikonsumsi  setelah dilakukan penanganan khusus oleh petugas RPH.

Referensi

Beard, P. M. 2016. Lumpy skin disease: A direct threat to Europe. Veterinary Record, 178(22), 557–558.

Calistri, P., De Clercq, K., Gubbins, S., Klement, E., Stegeman, A., Cortiñas-Abrahantes, J. 2020. Lumpy skin disease epidemiological report IV: Data collection and analysis. EFSA Journal. 2020;18(2):6010.

Ganesh, K. 2020. Photo featured in Introduction and spread of lumpy skin disease in South, East and Southeast Asia: Qualitative risk assessment and management. FAO: Rome.

Sprygin, A., Pestova, Y., Wallace, D. B., Tuppurainen, E., & Kononov, A. V. 2019. Transmission of lumpy skin disease virus: A short review. Virus Research, 269:197637.

Sripiachai, P. 2021. Lumpy skin disease outbreak in cattle in Nakhon Phanom. Bangkok Post: Thailand.

Tuppurainen, E. S. M., Babiuk, S., Klement, E. 2018. Lumpy skin disease. Springer International Publishing: USA.

Yadav, S. K. 2020. Lumpy skin disease (LSD). Technical Bulletin Central Veterinary Laboratory (CVL), 2020:Vol 1(1).

Referensi Artikel

Berita Terkini – Balai Besar Veteriner Wates (pertanian.go.id)

Kebumen Darurat LSD, 4.282 Sapi Terinfeksi, 27 Ekor Mati – Purwokerto (suara.com)