Pengembangan Komoditi Jagung Untuk Lahan Gambut

Tekanan jumlah penduduk Indonesia sangat mempengaruhi jumlah kebutuhan pangan untuk memenuhi kebutuhan komsumsi masyarakat indonesia, selain itu tingkat konversi lahan optimal semakin tinggi membuat potensi berkurangnya ketersediaan pangan. Hal tersebut menjadi perhatian pemerintah dalam menjaga ketahan pangan dengan upaya yang dilakukan adalah intensifikasi lahan dan ekstensifikasi lahan sub optimal. Lahan sub optimal yang dimaksud untuk ekstensifikasi adalah lahan kering dan lahan gambut/rawa yang memeiliki sebaran luas diwilayah Indonesia. Pengembangan Komoditi Jagung Untuk Lahan Gambut

            Pengembangan lahan sub optimal untuk meningkatkan produksifitas pangan kini terus dikembangkan untuk menghasilkan komoditi pangan yang ddibutuhkan. Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia mencatat luasan lahan gambut di indonesia seluas 8 juta ha lebih yang tergolong lahan gambut pasang surut daerah pesisir dan lahan gambut daerah pedalaman. Lahan gambut trsebar diseluruh provinsi Indonesia meski tidak secara keseluruhan setiap daerah, lahan gambut banyak ditemui di kalimantam, sumatera dan jawa. Jumlah besar tersebut menjadi bekal untuk ketersediaan pangan Indonesia tetap terpenuhi dengan pengembangan komoditi pangan seperti padi, jagung dan kommoditi lainnya.

            Tulisan ini akan menguraikan kesesuaian komoditi jagung untuk lahan gambut dimana kita ketahui tanaman jagung membutuhkan lahan dengan karakteristik tanah yang memiliki ketersediaan air yang cukup. Tanaman jagung merupakan tanaman pangan selain padi yang memiliki kandungan karbohidrat dan protein yang baik untuk tubuh, daya tahan jagung yang kuat serta penyesuaian tanaman jagung terhadap lingkungan relatif kuat shingga tanaman jagung berpotensi besar besar untuk dikembangkan diberbagai karasteristik tanah yang ada di Indonesia. Tanaman jagung tumbuh optimal dilahan dengan tanah yang berpasir lempung dengan drainase air yang baik atau kondisi tanah yang tidak tergenang air dengan pH tanah yang netral dimana tingkat kemasaman tanah dengan pH tersebut memiliki ketersediaan hara alami yang tinggi. Untuk itu evaluasi lahan gambut perlu dilakukan agar mendapat data sifat-sifat lahan gambut untuk disesuaikan dengan pengembangan komoditi jagung.

            Gambut dibentuk oleh timbunan bahan sisa tanaman yang berlapis-lapis hingga mencapai ketebalan >30cm. Proses penimbunan bahan sisa tanaman ini merupakan proses geogenik yang berlangsung dalam waktu yang sangat lama . Lahan gambat berada diwilyah genangan dengan tanah debu membuat dayat mengikat air lebih tinggi dan daya melepas air lebih rendah. Laju penimbunan atau pelapukan bahan organik dipengaruhi oleh sifat topografi dan curah hujan, kondisi yang selalu tergenang membuat kerja mikroorganisme lebih lambat untuk mengurai bahan organik. Lahan gambut memiliki pH rendah antara 3-4 yang membuat tanah menjadi asam, hal ini membuat ketersedian hara yang rendah utamanya hara makro seperti N, P, O dan K beitupula hara mikro seperti Cl, Ca, Mg dan lainnya dimana semakin tebal lahan gambut kandungan haranya semakin rendah, selain itu lahan gambut memiliki carbon yang tinggi karena sifat yang dimiliknya membuat dayat serap karbon yang lebih tinggi. Untuk itu pengembangan tanaman jagung dilahan gambut perlu adanya perlakuan terlebih dahulu, kesesuaian karasteristik tanahnya dengan tanaman jagung yang perlu diperhatikan seperti drainase tanah, kematangan tanah, warnah tanah, tekstur tanah, kedalaman efektif dan struktur tanah dimana kesemua itu merupakan komponen sifat tanah untuk pertumbuhan tanaman.

            Penelitian kesesuaian lahan gambut di daerah Kalimantan untuk tanaman jagung memberikan gambarang prospek pengembangan tanaman jagung dilahan gambut serta metode pengolahan lahan yang dibutuhkan. Dalam penelitian tersebut menguraikan kematangan tanah dan ketebalan tanah dikelompokkan mejadi tiga jenis yaitu saprik, hemik dan fibrik. Lahan gambut mempunyai kapasitas mengikat air (water holding capacity) yang relatif sangat tinggi atas dasar berat kering. Kapasitas mengikat air maksimum untuk gambut fibrik adalah 580 – 3000 %, untuk gambut hemik 450 – 850 % dan untuk gambut saprik < 450 %.  Gambut akan berubah menjadi hidrofob (menolak air) kalau terlalu kering .(berdasarkan tingkat ketebalan gambutnya, daerah penelitian tergolong ke dalam gambut dangkal (50-100 cm) dan gambut sedang (100- 200 cm). Ketebalan gambut yang berbedabeda dapat mempengaruhi tingkat kesuburan gambut. Semakin tebal gambut kesuburannya semakin menurun sehingga tanaman akan sulit mencapai lapisan mineral yang berada di lapisan bawahnya. Ketebalan gambut juga mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap produktivitas lahan, sehingga ketebalan gambut menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pengelolaan lahan untuk pengembangan pertanian.

            Warna tanah merupakan petunjuk untuk beberapa sifat tanah karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut. Kandungan bahan organik, kondisi drainase dan aerasi adalah sifat-sifat tanah yang berkaitan dengan warna tanah. Perbedaan warna tanah umumnya disebabkan oleh perbedaan kandungan bahan organic dan kedalaman tanah, kedalaman yang rendah memiliki warnah yang cukup cerah dan kedalam yang tinggi memiliki warna yang gelap. Semakin tinggi kandungan bahan organik maka warna tanah akan semakin gelap. Sedangkan pada lapisan bawah yang selalu tergenang air, tanah berwarna abu-abu karena senyawa Fe terdapat dalam keadaan reduksi. Selain itu struktur tanah di wilyah penelitian massive yang ditentukan dengan Satuan Peta Tanah (SPT) dengan variabel kedalaman tanah. Dalam kondisi tersebut membuat isi bobot tanah tinggi sehingga sukar untuk ditembuh dan pertumbuhan akar akan terhambat sehingga membutuhkan pengolahan terlebih dahulu.

            Tekstur tanah merupakan kasar halusnya tanah dari perbandingan pasir, debu dan tanah berlempumg. Pada lokasi penelitian dapat diketahui bahwa tekstur tanah lapisan atas (0-30 cm) didominasi oleh debu. Hal ini dapat dilihat dari persentase tekstur di laboratorium dimana kandungan debunya lebih besar dibanding dengan pasir dan lempung yaitu 86,67%; 0%; dan 13,33%. Tanah-tanah yang mengandung debu yang tinggi dapat memegang air tersedia untuk tanaman. Sedangkan tanah yang mengandung fraksi lempung memiliki kemampuan besar memegang air. Tanaman jagung tumbuh baik pada tanah dengan tekstur lempung debuan yang sesuai untuk tanaman jagung. Pengembangan Komoditi Jagung Untuk Lahan Gambut

            Drainase tanah berkaitan dengan kecepatan air untuk meresap ke dalam tanah (infiltrasi) dan menunjukkan lamanya serta seringnya tanah jenuh air atau tergenang. Pada umumnya tanaman memerlukan kondisi drainase tanah yang baik untuk memfasilitasi cukupnya ketersediaan oksigen. Drainase didaerah penelitian menenjukkan variasi dilihat dari SPT wilyah lahan gambut tersebut namun SPT yang tidak berada dalam kondisi tergenang dengan muka air tanah berada >30 cm sehingga tata udara pada tanah bagian atas dalam keadaan baik, sehingga sesuai lahan untuk tanaman jagung. Kedalaman efektif tanah adalah kedalaman dimana perakaran tanaman masih bisa masuk ke dalam tanah. Kedalaman tersebut umumnya dibatasi oleh suatu lapisan penghambat, misalnya batu keras, padas atau lapisan lain yang mengganggu atau menghambat perakaran. Dari hasil pengamatan yang dilakukan di lapangan berdasarkan minipit pewakil, maka diketahui bahwa di lokasi penelitian memiliki kedalaman efektif yang termasuk ke dalam kategori sangat dangkal sampai dengan kategori sedang sehingga terdapat beberapa SPT yang sesuai dengan tanaman jagung.

            Dari hasil identifikasi sifat fisik tanah yang kemudian dipadukan dengan syarat tumbuh untuk tanaman jagung maka lahan gambut berpotensi baik untuk pengembangan tanaman jagung, namun demikian pada lokasi tersebut masih memerlukan pemeliharaan drainase dan pengaturan tata air, pembuatan embung pada musim kemarau dan sistem surjan pada lokasi yang masih berpotensi banjir pada musim penghujan. Perbaikan hara tanah dengan cara pemupukan juga perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman untuk tumbuh dengan optimal. Pengeluaran biaya yang relatif tinggi dan waktu optimal lahan yang relatif lama memang menjadi hal yang dihadapi dalam pengembangan lahan gambut namun hal itu harus dihadapi untuk mengoptimalkan lahan gambut yang tersebar luas di indonesia. Dengan metode serta teknologi yang tepat merupakan hal tepat untuk ekstensifikasi lahan gambut agar ketersediaan pangan yang terus meningkat dengan peningkatan jumlah penduduk dapat teratasi serta dapat menuntas kemiskinan dengan mensejahterakan petani Indonesia. Pengembangan Komoditi Jagung Untuk Lahan Gambut

Penulis : Yusran

Referensi :

SuswatiDenahDkk,2011,identifikasi_sifat_fisik_lahan _gambut_rasaujayaIII_kabupaten_raya_untuk_ pengembangan_jagung, fakultas pertanian UGM, vol. 1, https://media.neliti.com/media/publications/220695-identifikasi-sifat-fisik-lahan-gambut-ra.pdf, 18/07/20.

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Pengembangan Komoditi Jagung Untuk Lahan Gambut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *