Dampak Lonjakan Limbah Medis Akibat Pandemi

Penulis : Muh. Taqwa

Sejak diumumkannya pertama kali virus corona masuk di Indonesia yang saat ini angka bertambahnya yang terjangkit virus tersebut sudah mencapai 12.071 positif, 2.197 sembuh, dan 872 meninggal pertanggal 5 Mei 2020 (Sumber. Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19).


Tentu angka yang tidak sedikit dari tiga bulan terakhir dengan penambahan disetiap harinya, dengan kondisi seperti ini akan mendorong pemakaian alkes dan peningkatan limbah medis yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit.

Sebagai fungsi tentunya rumah sakit adalah tempat dimana masyarakat yang sakit bisa sembuh dari penyakitnya, bukan sebaliknya yang menjadi tempat yang menimbulkan penyakit bagi masyarakat, karena rumah sakit menghasilkan limbah medis dengan sifat B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) jadi rumah sakit tentunya harus memiliki standar penanganan kebersihan yang tinggi agar bisa tertangani dengan baik dan tidak berdampak buruk terhadap lingkungan, manusia dan makhluk hidup lainnya.

Limbah Medis Melonjak Ditengah Pandemi (Sumber Gambar : Liputan 6)


Adapun dampak buruk yang dapat ditimbulkan dari limbah medis yaitu;


– Pencemaran air
Air adalah sumber kehidupan, dan hampir seluruh kegiatan atau dalam dunia industri menggunakan air, terlebih lagi dalam kehidupan sehari-hari.
Air yang tercemar akan berdampak pada kondisi pertanian dan perikanan, karena bahan kimia yang dihasilkan limbah medis akan membuat tanaman mati dan komoditi yang dibudidayakan akan mati untuk sektor (perikanan). Contoh kecil yang bisa ditimbulkan seperti air yang terlalu asam atau basa, akan tidak baik terhadap tanaman dan ternak dan air yang tercemar oleh senyawa organik dan anorganik akan menjadi media penularan penyakit berbahaya yang dapat menular melalui air seperti thypus abdominalis, hepatitis, ascariasis, cholera dll.


– Dampak Lingkungan
Dampak buruk yang ditimbulkan dari virus corona juga diungkapkan oleh Wakil Presiden Ocean Conservatory, Doug Cress, dampak dari virus corona adalah sampah plastik yang dibuang di lautan dan jumlahnya jauh lebih tinggi, bahkan sebelum pandemi mulai, 8 juta ton metrik masuk di lautan kita, ada barang-barang seperti APD termasuk plastik yang keluar dari industri makanan atau bungkus makanan yang menjadi satu-satunya cara untuk melayani restoran.
Untuk dampak terhadap manusia adalah dari perkembangbiakan tikus dan serangga ditempat pembuangan akhir dan juga lalat dan nyamuk yang menjadi carrier pembawa virus dan penyakit terhadap manusia dan sangat jelas dampaknya yaitu penyakit seperti DBD misalnya, kaki gajah, malaria dll.


– Pencemaran udara
Saat ini banyak media yang memberitakan bahwa kualitas udara pada saat pandemi virus corona menyerang bumi, kualitas udara semakin baik, ini dikarenakan kegiatan manusia yang semuanya dilakukan #dirumahaja WFH (Work From Home) membuat kegiatan lalu lintas menurun drastis dan gas karbon dioksida (CO2), Oksida Nitrogen (NOX), Karbon Monoksida (CO), dan Hidrokarbon (HC) yang dihasilkan dari mesin kendaraan menurun.


Dan organisasi meteorologi dunia juga mengungkapkan bahwa emisi karbon dioksida global kemungkinan akan turun 6% pada tahun ini akibat pandemi. (Sumber. Maliana/tribunnews.com)


Akan tetapi kita tidak hanya memandang satu sisi saja, karena limbah bersumber dari banyak hal dan kegiatan, contoh misalnya seperti meningkatnya jumlah yang terkena virus corona menjadikan tingkat pelayanan kesehatan terus naik dan untuk perawatan tentunya banyak menggunakan alat kesehatan dan kita tahu bahwa alat kesehatan hanya bersifat sekali pakai untuk menghindari penularan terhadap orang lain dan kegiatan tersebut tentu menghasilkan limbah yang berdampak terhadap pencemaran jika tidak dikelola dengan baik.


Sama halnya dengan air, dampak dari pencemaran udara tidak hanya berakibat langsung terhadap kesehatan manusia, akan tetapi juga berakibat langsung terhadap ternak hewan, tanaman dan sebagainya. Dampak ini biasanya dihasilkan dari limbah kimiawi, limbah farmasi, logam berat, limbah genotoxic dan wadah bertekanan masih banyak yang belum diolah dengan baik, limbah ini masuk dalam kategori infeksius dimana limbah infeksius menjadi sumber penyebaran penyakit terhadap manusia.

Pada udara yang tercemar akan meningkatnya karbon dioksida (CO) pada lingkungan sekitar dan Nitrogen Oksida yang bersifat racun dimana ketika terhisap oleh manusia dan masuk dalam paru-paru, maka peredaran darah akan menghalangi masuknya oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh, karena gas CO bersifat racun metabolis yang langsung ikut bereaksi secara metabolis dengan darah dan konsentrasi gas nitrogen oksida yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada sistem syaraf.

“Kepedulian kita terhadap lingkungan, akan menyelamatkan bumi kita dimasa depan”


Usaha masyarakat untuk menghindari virus corona agar tidak terjadi penularan yaitu dengan menggunakan masker, dan jika di hitung-hitung dari jutaan orang yang menggunakan masker sekali pakai, maka limbah masker akan menumpuk, tentunya limbah masker medis harus pula diperhatikan cara membuangnya. Maka dari itu, pemerintah juga menghimbau masyarakat agar menggunakan masker kain untuk mengurangi limbah masker medis dan tentunya jaga imunitas tubuh agar tidak mudah sakit.

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *